Essai

Film The Santri vs Film 212 The Power of Love, Mana yang Lebih Religius?

Oleh: Ahmad Rifki Hidayat

Film The Santri masih menjadi trending topic dunia maya. Film garapan Livi Zheng yang konon kabarnya bergenre religius ini menuai kritik dari santri monas yang menganggap tidak sesuai dengan semangat religiusitas seorang muslim.

It’s ok, mungkin yang dimaksud muslim versi mereka.

Kritik yang dialamatkan tersebut lantaran terdapat adegan mengirimkan tumpeng pada orang kafir. Ups, sorry… I mean, Non Muslim. Kita semua paham, tersebut memang muncul dari santri monas alias kaum monaslimin. Ups, keceplosan maning. Itulah golongan umat Islam yang heboh karena salat Jumat di Monas dan tidur di masjid.

Begini Sobat Energi, apakah film tersebut sudah jadi, dan sudah terjadwal akan ditayangkan sejak tanggal berapa dan bulan berapa? Pertanyaan sederhana ini perlu muncul, sebab belum ada kabar bahwa film tersebut sudah rampung. Karena pada umumnya, film yang diprediksi booming tentu ada informasi tersebut, konferensi perslah atau apaan gitu kek, pokoknya ada woro-woro sebelum tayang perdana.

Selanjutnya, mari kita menilik kondisi keberagamaan dalam keberagaman belakangan ini. Adanya penghapusan kata kafir diganti dengan non muslim mendapat reaksi berbagai macam. Alih-alih dapat menjelaskan dalam konteks KBBI, yang ada justru nylewah dengan isu ada Ormas Islam terbesar di dunia yang mau menghapus atau mengganti redaksi surat Alkafirun dan Alquran.

Sebelumnya juga ramai tentang Multaqa Ulama Ahlussunnah wal jamaah yang mendukung khilafah sebagai sistem kenegaraan. Kita pahami dari penjelasan Prof Dr KH Nadirsyah Hosen bahwa konsep tersebut hanya akal-akalan sebuah Ormas Islam terlarang. Guru besar dari berbagai kampus luar negeri kenamaan tersebut juga menjelaskan banyak hal tentang HTI dan ide khilafah yang diklaim ala minhajin nubuwwah di situs resminya.

Ok, We must focus to the topic, It’s about movies. I think we need flashback to the story of movies.

Maksud ana sih nengok sedikit pada film-film yang sudah lalu. Tak perlu terlalu jauh pada film Sengsara Membawa Nikmat yang aktor utamanya seorang non muslim praktik azan, dan salat di dalam film tersebut. Cukup kita perhatikan saat peluncuran Ayat-Ayat Cinta yang diadopsi dari sebuah novel, hasilnya tidak mendapat cibiran. Boro-boro membuat acara bedah movie, yang ada malah membuat acara Nonton Bareng.

Antusias yang sama juga nampak pada film Ketika Cinta Bertasbih, dan 212 The Power of Love, bahkan tokoh-tokoh politik ikut dalam aksi nonton bareng, pake ngirim release media pula. Film bergenre religi yang memiliki antusias serupa adalah film Kiamat Sudah Dekat, dan Perempuan Berkalung Sorban. Meski di dalamnya terdapat hal yang dipandang tidak sesuai dengan realita.

Pada episode sinetron Pesantren Rock’N Roll juga mendapat respon positif lho, guys. Katanya sih kehidupan santri pondok pesantren yang bernuansa kekinian. Padahal dari semua film tersebut berbeda dengan The Santri yang menurut gambaran umum skenarionya bernuansa nasionalisme. Jadi bukan sekedar film religi, akan tetapi menyampaikan pesan moral dengan mengajarkan tentang cinta tanah air, cinta agama, cinta kepada seluruh ciptaan Tuhan, terutama tentang ajaran toleransi antar umat beragama.

Apakah yang dimaksud film religius nasionalis itu berwujud film “Hayya, The Power of Love 2” seperti kecintaan mereka yang dalam demo politiknya selalu mengaku sebagai bangsa Indonesia tapi bangga beratribut Palestina? Wallahu a’lam bimurodih.

Related Articles

Back to top button