Essai

Film The Santri Tidak Sesuai Realita, Ya Namanya Juga Film

ENERGIBANGSA.ID – Film merupakan sebuah gambaran untuk menceritakan sebuah kejadian. Bila hal ini terkait dengan sejarah, maka filmografi sejarah tak lantas mewakili gambaran detailnya, bamun bila terkait dengan kehidupan seseorang juga tak secara serta merta memvisualkan realita. Pun demikian dengan filmografi cerpen atau novel yang belum tentu mengakomodir semua kisah yang ada

Lagi lagi apa yang dibuat oleh Sutradara yang disebut “BELAGA Hollywood” menuai Pro Kontra. Ya siapa lagi kalau bukan Livi Zheng, entah kenapa dirinya sangat melekat dengan kata Kontroversi.

Sebagaiman ramai diberitakan sebelumnya, Livi Zheng saat ini sedang bekerjasama dengan PBNU dalam menggarap sebuah film yang menceritakan sesuatu tentang kultur budaya NU. The Santri yang baru kemarin muncul rilis trailernya menuai kritik dari beberapa kalangan.

Salah satunya adalah seorang yang menyebut dirinya dari Front Santri indonesia. Yang Tim Redaksi Energi Bangsa telurusi, Nama kelompok tersebut adalah anak organisasi dari Front Pembela Islam. Organisasi itu dideklarasikan di Kesultanan Maulana Yusuf Provinsi Banten pada tanggal tanggal 22 Oktober 2017.

Ormas yang baru ini sempat juga ditahun 2018 mendeklarasikan untuk mendukung Prabowo Subianto, tokoh FSI tersebut Hanif Alathas  mengatakan bahwa film The Santri tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya.

Mereka memboikot karna dalam film tersebut banyak adegan yang tidak mencerminkan seorang Santri. Karna ada adegan dimana pemeran utama mereka berjalan berdua. lalu ada tumpeng  yang dibawa ke gereja.

Scene dua Santriwati memberikan Tumpeng
Scene berduaan antara santri putra dan putri

Sobat energi membaca buku atau hanya melihat resensinya? Sebuah pertanyaan yang sama redaksi ajukan untuk memperjelas antara film dan trailer. Ini baru trailer lho man.. Bukan film seutuhnya, yang mungkin ada penjelasan mengapa melakukan hal demikian

Sama halnya anda melihat orang lawan jenis berduaan di taman, anda tidak akan mungkin tahu yang sebenarnya itu mereka sedang berpacaran, atau pengantin baru atau mungkin mengajak saudaranya yang datang dari luar kota? Normalnya, persepsi semacam itu akan muncul kalau anda melihatnya secara sekilas.

Untuk diketahui, trailer adalah sebuah scene film yang dipotong, bahkan bisa jadi dalam sebuah trailer yang menuai kritik, namun setelah tayang justru dikagumi, atau bahkan sebaliknya. Karna apa? Karna saat menonton film tidak sesuai ekspektasi yang ada seperti kilasan trailer atau Novel aslinya.

Well, would you know the film? Ini adalah sebuah film yang diperuntukkan sebagai tontonan. Meski mengandung unsur religi, belum tentu bisa menjadi sebuah tuntunan. Sama halnya anda melihat film superhero tanpa melihat Rate usia.

Gundala misalkan, film ini tidak cocok untuk anak di bawah umur karna mengandung unsur kekerasan. Akan tetapi ekspektasi orang pada umumya berharap film itu cocok untuk anak agar menumbuhkan semangat juang yang tinggi.

Pernahkah Sobat Energi menonton sebuah film yang diangkat dalam kisah nyata mempunyai kesamaan secara Total? Tidak ada, bahkan film Sukarno yang karya sutradara Hanung menuai kritikan karna mengabaikan fakta.

Contoh lain, Ayat Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Sebuah film yang diangkat dari sebuah novel yang mengisahkan mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Karya tersebut tentu akan terdapat hal yang tidak sesuai dengan kaidah islam, cerita novel. Bahkan, pembuat novel pun belum tentu menggambarkan detail nama dengan kondisi lokasi yang sama.

Apa sebab? Karena semua itu hanya cara penulis untuk mengemas supaya pembaca lebih mudah menikmati dan membuat penonton film tetap enjoy dalam menikmati, tentunya terdapat proses adaptasi agar sesuai dengan semua kalangan. Pada intinya, penulis atau pembuat film dalam ideologinya tetap memberikan pesan moral yang terselubung dalam karyanya. (*)

Editor : Rifki

Related Articles

Back to top button