fbpx
Nasional

Ekstremisme Agama dan Polarisasi Jadi Penyebab Turunnya Kepercayaan Masyarakat Terhadap Vaksin, Benarkah?

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Sebuah studi yang dilakukan oleh The Lancet mengungkapkan sebuah hasil yang cukup membuat terkejut. Menurut hasil yang telah dipublikasikan oleh The Lancet akhir-akhir ini menyebutkan jika kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia terhadap vaksin menurut secara drastis.

Alasan terkuat dibalik peristiwa ini dipercaya akibat ekstremisme terhadap agama.

Penelitian yang dilakukan sejak 2015 hingga 2019 menunjukkan jika Indonesia menjadi salah satu negara yang masuk ke dalam daftar negara yang tingkat kepercayaannya terhadap vaksin menurun secara signifikan.

Namun dalam penelitian ini, peneliti juga melihat adanya indikator yang mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin. The Lancet menyatakan jika terdapat tiga indikator yang dilihat.

Dalam penelitian tersebut disebutkan jika ketiga aspek tersebut meliputi aspek kepercayaan masyarakat terhadap keamanan vaksin misalnya, Indonesia diperoleh catatan jika dalam kurun waktu 2015-2019 terjadi penurunan sebesar 14% (dari 64% menjadi 50%). Selain itu kepercayaan terhadap kepentingan vaksin juga turun sebanyak 15% (75% menjadi 60%), sedangkan kepercayaan terhadap efektivitas vaksin turun sebanyak 12% (59% menjadi 47%).

Para pemimpin kelompok Muslim yang mempertanyakan mengenai vaksin ini diyakini menjadi penyebab sebagian besar sikap negative yang muncul dari masyarakat. Selain itu, ketidakpercayaan terhadap vaksin jugua didorong dengan keberadaan penyembuh lokal yang aktif mempromosikan diri menjadi solusi alternatif selain vaksin.

“Indonesia mengalami penurunan kepercayaan (vaksin) besar antara tahun 2015 dan 2019, sebagian dipicu oleh para pemimpin Muslim yang kerap mempertanyakan keamanan vaksin campak, gondongan, dan vaksin rubella (MMR), dan akhirnya mengeluarkan faftwa (aturan agama) yang mengklaim jika vaksin tersebut haram dan mengandung bahan yang berasal dari babi dan karenanya tida dapat diterima oleh umat Islam,” ujar peneliti dalam studi yang berjudul ‘Mapping global trends in vaccine confidence and investigating barriers to vaccine uptake’.

Dampak dari adanya polarisasi politik dan ekstremisme agama.

Dari hasil penelitian, diketahui jika penurunan kepercayaan terhadap vaksin tidak hanya di Indonesia, namun juga di beberapa  negara lain seperti Pakistan, Serbia, Azerbaijan, Afghanistan, dan Nigeria. Adanya ketidakpercayaan ini berkaitan dengan tren ketidakstabilan politik dan ekstremisasi agama di negara-negara tersebut.

“Di antara beberapa negara, ada lebih banyak polarisasi sentimen. Lebih banyak orang yang bersikap ekstrem ‘sangat tidak setuju’ atau ‘sangat setuju’,” kata Heidi Larson, seorang profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine yang memimpin penelitian, dikutip Reuters.

Studi ini secara umum memetakan tren kepercayaan vaksin di 149 negara dalam kurun waktu 2015 dan 2019. Temuan ini didasarkan pada data dari lebih dari 284.000 orang dewasa yang ditanyakan pada 2019 apakah mereka memandang vaksin itu penting, aman dan efektif.

Dari hasil studi tersebut menunjukkan jika kepercayaan vaksin di Eropa lebih rendah dibandingkan dengan wilayah lain di dunia, seperti Afrika. Di Eropa, kepercayaan publik pada vaksin punya rentang 19% di Lithuania, hingga 66% di Finlandia.

Namun, peneliti mencatat bahwa kepercayaan publik terhadap vaksin telah meningkat di beberapa negara Eropa sejak 2015, seperti di Prancis, Italia, Irlandia, dan Inggris. Irak, Liberia, dan Senegal memiliki proporsi responden tertinggi pada 2019, yang setuju bahwa vaksin itu penting.

Larson mengatakan, dengan pembuat obat dan peneliti di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan vaksin corona untuk melawan pandemi COVID-19, pemerintah setiap negara harus ekstra waspada dalam menilai kepercayaan publik terhadap vaksin dan menanggapi kekhawatiran dengan cepat.

“Ada banyak kecemasan tentang kecepatan pengembangan vaksin (untuk COVID-19),” katanya. “Tapi publik tidak terlalu tertarik pada kecepatan. Mereka lebih tertarik pada ketelitian, keefektifan dan keamanan.” Ujarnya. (EB/kumparan).

Related Articles

Back to top button