fbpx
BUDAYAPendidikanPojok Bangsa

Edukasi Peringatan Hari Ibu, Hindun Anisah Luruskan Sejarah Tanggal 22 Desember

ENERGIBANGSA.ID, JEPARA – Tanggal 22 Desember biasanya diperingati sebagai hari ibu, dan dirayakan dengan memberikan ucapan selamat kepada ibu, beserta hadiah atau simbolis lainnya.

Namun politisi dan pemerhati perempuan Ny. Hj. Hindun Anisah, MA tidak sepakat dengan istilah hari ibu di tanggal 22 Desember.

Menurut Bu Nyai yang didapuk menjadi Presidium KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia) itu, tanggal 22 Desember merupakan Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia, namun ada pembelokan sejarah.

“Ditengok dari sejarahnya, tanggal 22 Desember ini sebelum era pemerintahan Suharto, hari ini dikenal sebagai Hari Kebangkitan Perempuan Indonesia,” tulisnya di social media @bundahindun.official pada Selasa (22/12)

“Jika dirayakan terus menerus dengan memberikan hadiah khusus untuk ‘mother’ (saya pakai kata mother, agar tidak ambigu), ini seperti mengubur sejarah pergerakan politik perempuan Indonesia yang sudah eksis jauh sebelum negeri ini merdeka,” lanjut perempuan yang sudah berkali-kali menjadi narasumber soal kesetaraan gender di luar negeri itu.

Pembelokan Sejarah

Hindun menyebut pembelokkan sejarah disengaja untuk mengecilkan peran perempuan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, maupun pelibatan dalam politik praktis, sampai sekarang.

“22 Desember adalah Hari Ibu yang berbeda dengan mother’s day. Ibu adalah sebutan untuk perempuan yang dihormati. Tidak khusus untuk perempuan menikah dan melahirkan. Buktinya, pada tanggal 22 Desember 1928 para perempuan yang mengikuti kongres banyak yang belum menikah, sebagian besar usianya masih muda belia.” Tulisnya lagi.

Perempuan yang baru saja didaulat menjadi Ketua Umum FASANTRI (Forum Pengasuh Pesantren Puteri) itu menyebut, tokoh-tokoh kebangkitan perempuan itu di antaranya adalah ibu Siti Sundari.

“Saat itu status beliau masih sebagai calon istri Muhammad Yamin, jadi istri saja belum, apalagi ibu. Tuntutan mereka tahun 1928, sudah begitu jelas, KESETARAAN. Mereka jelas menentang poligami dan menuntut akses pendidikan yang sama.” jelas Bunda Hindun.

Jadi tanggal 22 Desember ini tidak cocok apabila disamakan dengan mother’s day ala barat. Ini berbeda. Jadi sekali lagi, 22 Desember ini adalah Hari Kebangkitan Perempuan,” pesannya.

Alumni University of Amsterdan itu juga mewanti-wanti agar perayaan Hari Kartini, sebagai hari emansipasi perempuan, tidak dirayakan dengan lomba-lomba masak dan parade pakaian adat Jawa.

Pesan Kartini

“Hari Kartini itu memperingati emansipasi perempuan. Jadi jangan pula merayakan hari Kartini dengan lomba-lomba masak, parade pakaian adat. Jika mendengar nama Kartini, ingatlah dia mencerdaskan kaum dan bangsanya melalui baca tulis, korespondensi, jurnalistik,” jelasnya melalui pesan elektronik di tengah-tengah pembukaan Muktamar NU ke-34 di Lampung.

Hindun memberi pesan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk merayakan hari Kartini dengan membahas perjuangannya, pemikiran dahsyatnya. Dia adalah pelopor kemerdekaan melalui penanya yang tajam.

“Cara-cara kritis Kartini itu kemudian dipakai oleh banyak tokoh-tokoh pria, seperti Tirto Adhi Suryo, Ernest Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantoro, dr. Cipto Mangunkusumo, HOS Cokroaminoto, juga proklamator kita Sukarno dan Hatta. Begitu sejarahnya,” pungkasnya.

Related Articles

Back to top button