fbpx
Essai

Edhy Prabowo dan Juliari Batubara Tersandung Skandal Korupsi, Apa itu Korupsi?

ENERGIBANGSA.ID—Sobat energi, dipenghujung 2020 ini situasi sosial, politik dan hukum kita sedang runyam. Korupsi, rupanya membangun lagi sejarah baru di Indonesia. Betapa tidak, belum berselang lama, dua menteri di pemerintahan Kabinet Indonesia Maju tersandung kasus korupsi.

Pertama, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo terjaring operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi. KPK menangkap Menteri Edhy, yang baru pulang dari lawatannya ke Amerika Serikat, di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada Rabu (25/11) dini hari.

Mengutip sumber BBCNews, Rabu (25/11), KPK dalam jumpa pers Rabu (25/11) malam sekitar pkl 23.35 WIB menyebutkan bahwa Menteri Edhy terjaring dalam operasi tangkap tangan sepulang dari kunjungan kerja ke AS. Pada saat lawatan di AS itulah diduga Edhy dan istrinya membelanjakan uang senilai Rp750 juta yang berasal dari dugaan pemberian hadiah dalam kasus ekspor benih lobster.

Kedua, Menteri Sosial Juliari Peter Batubara resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Politisi PDIP itu harus berurusan dengan hukum dalam kasus dugaan suap pengelolaan dana bantuan sosial penanganan Covid-19. Yakni berupa paket sembako di Kementerian Sosial tahun 2020.

Sebelum penetapannya sebagai tersangka, KPK telah menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 5 orang stafnya, Sabtu (5/12) lalu.

Melansir tulisan Kompas.com, Minggu (6/12), KPK dalam OTT juga menemukan uang dengan sejumlah pecahan mata uang asing. Masing-masing yakni sekitar Rp 11,9 miliar, sekitar 171.085 dollar AS, dan sekitar 23.000 dollar Singapura. Berdasar pada dua contoh kasus di atas, apa sebenarnya korupsi dan suap itu?

Korupsi

Bersumber kpk.go.id, korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan demi kepentingan pribadi atau orang lain termasuk keluarga dan kerabat. Henry Campbell Black dalam Black’s Law Dictionary menjelaskan, korupsi sebagai perbuatan yang dilakukan dengan memberikan beberapa keuntungan yang bertentangan dengan tugas atau hak orang lain.

Menurut UU PTPK (Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) No. 31 Tahun 1999, korupsi dikelompokkan menjadi 7 bentuk: (1) merugikan keuangan negara, (2) suap menyuap (istilah lain: sogokan atau pelicin), (3) penggelapan dalam jabatan.

Selain itu, (4) pemerasan, (5) perbuatan curang, (6) benturan kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa, serta (7) gratifikasi (istilah lain: pemberian hadiah).

Korupsi: Kejahatan Luar Biasa

Korupsi termasuk dalam kejahatan luar biasa. Hal ini dikarenakan karena korupsi berpotensi dilakukan oleh siapa saja. Tak hanya itu, sifatnya sendiri lintas negara, sehingga bisa meluas hingga seluruh dunia.

Korupsi ini juga bisa terorganisasi atau oleh organisasi, bisa bayangkan bagaimana sebuah kejahatan ini dilakukan oleh sebuah organisasi. Kerugiannya sendiri pastinya sangat besar dan juga meluas. Melihat alasan-alasan inilah pemberantasan korupsi harus dilakukan dengan cara-cara luar biasa.

Korupsi ini juga bisa dilakukan siapa saja, termasuk pejabat negara. Jika terkait dengan keuangan negara, maka di dalam UU PTPK terdapat 2 pasal yang mengatur perbuatan korupsi berkaitan dengan kerugian keuangan negara yaitu di pasal 2 dan pasal 3 UU PTPK.

Bentuk korupsi tidak hanya dalam bentuk uang saja, tetapi seperti memakai fasilitas dinas untuk kepentingan pribadi. Menggunakan jam kantor untuk mengerjakan hal pribadi, dan memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi juga dianggap sebagai korupsi.

Suap = Korupsi?

Suap adalah salah satu bentuk dari korupsi. Lantas, apa sih itu suap? Suap-menyuap menurut Wikipedia merupakan tindakan memberikan uang, barang atau bentuk lain sebagai “imbalan” dari pemberi suap. Pasal 3 UU No. 3 Tahun 1980 menyebut, penyuapan terjadi saat ada orang yang menerima suap. Dan itu, menyangkut kepentingan umum bahkan biasanya yang berlawanan.

Nah, kita sebagai masyarakat yang berpegang teguh dengan nilai-nilai Pancasila seyogyanya dapat menghindari tindak korupsi. Sebab, korupsi pada hakekatnya sangat merugikan orang sekitar hingga negara kita.

Korupsi menjadi kesempatan orang yang ‘tamak’ dengan harta. Sekali berhasil, maka akan terus melakukannya kembali. Dan semakin banyak pula alasan yang akan dipakai.

Bayangkan jika mengorupsi uang negara, berapa juta warga negara yang dirugikan, sob! Terlebih tindak korupsi yang dilakukan berkenaan dengan anggaran untuk publik. Ukhh!!! Bikin gemes rakyat kita, kan? Yuk, hindari korupsi (Nicola Adella/ EB)

Related Articles

Back to top button