Kabar Indonesia

Dua Lokalisasi di Semarang Resmi Ditutup!

ENERGIBANGSA.ID – Dua tempat lokalisasi di Kota Semarang menurut rencana akan ditutup sebelum 17 Agustus 2019 nanti. Dua lokalisasi tersebut memang cukup populer, yakni kompleks lokalisasi Argorejo Semarang Barat atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kuning atau SK dan di Kelurahan Rowosari Atas Kecamatan Tugu atau lebih populer dikenal dengan Gambirlangu yang juga memiliki singkatan, yakni GBL.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun tim energibangsa.id, GBL dihuni oleh 120 pekerja seks komersil (PSK) atau wanita pekerja seks (WPS) dan di SK dihuni sekitar 476 orang yang tersebar di enam RT.

Tidak seperti yang khalayak pikirkan, mereka yang domisili di sana tidak semuanya pelaku bisnis esek-esek. Ada yang bekerja di SK ada yang memang sebagai WPS, dan ada pula yang pekerjaannya murni (hanya) pemandu karaoke dan kapster salon kecantikan yang ada di lokasi tersebut.

Dari hasil pantauan tim redaksi energibangsa.id, setidaknya ada dua hal yang menarik untuk dibahas: Pertama, keresahan masyarakat akan merebaknya WPS liar di jalanan lantaran tempat mencari nafkahnya ditutup dan Kedua, kekhawatiran para WPS mengenai keberlangsungan hidupnya jikalau harus berhenti melayani lelaki hidung belang.

Berbeda dengan GBL, Sunan Kuning memang dikenal dengan lokalisasi yang terorganisir, terbukti dengan adanya program screening berkala untuk para WPK.

Pengelolaan yang ada di lokasi tersebut mewajibkan setiap WPK terdata ‘resmi’ dengan adanya kartu tanda anggota (KTA), bersedia mengikuti screening 1 bulan sekali. Selain itu mereka diwajibkan memiliki buku tabungan untuk masa depan. Aturan tersebut bersifat terikat dengan pengelolaan yang bisa dikatakan profesional.

Selain itu, setiap WPK wajib meminta penikmat jasanya untuk menggunakan kondom sebagai alat pengaman saat hubungan seks agar terhindar dari wabah penyakit menular seksual (PMS) atau bahkan HIV (Human Immunodeficiency Virus), yakni jenis virus yang menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome).

Konsekwensi akan peraturan ini dibuktikan dengan hasil screening berkala, jika hasil screening menunjukkan hasil positif terinfeksi, maka WPS tersebut diskrosing, alias wajib berhenti menerima tamu dan harus masa masuk masa karantina.

Masa karantina kurang lebih 2-3 bulan saja, jika sampai batas waktu 2-3 bulan belum sembuh, maka konsekwensinya adalah harus bersedia keluar dan KTA dicabut secara resmi.

Dari sisi moral dan mentalitas, pengelola juga berusaha membuat mereka berhenti menjalani hidup dalam ‘lembah hitam’ kehidupan malam, yakni dengan pembinaan rohani dengan kajian keagamaan yang ringan dan memotivasi untuk dapat hidup lebih baik dan bermartabat.

Memperhatikan hal tersebut, jika dilihat dari kacamata positif, maka hal tersebut layak untuk diapresiasi atas inisiatif pengelola yang secara mandiri menyelenggarakan hal tersebut dengan menggandeng pihak-pihak terkait.

Prostitusi Online dan Kedok

Menurunnya jumlah WPK yang ada diklaim sebagai keberhasilan atas pengelolan tersebut, namun sobat energi mungkin bisa menolak atau membantah pernyataan tersebut. Di era digital semacam ini, netizen juga tentunya ingat adanya kasus prostisusi online yang menjerat artis dengan tarif fantastis.

Terkuaknya kasus tersebut menunjukkan peran Ditreskrimsus Cybercrime POLRI saat ini memang sangat signifikan dan sangat dibutuhkan. Salut untuk Kepolisian Republik Indonesia yang sudah berhasil membongkar kasus perdagangan orang dalam konteks prostitusi online.

Sekarang, mari kita bicara kemungkinan para WPS untuk beralih ke online atau bertebaran secara bebas di jalanan Kota Semarang dan kabupaten/kota asalnya.

Sekira awal era reformasi, SK pernah bubar sendiri atau bisa dikata bubar tanpa pengaruh dan tekanan pemerintah. Konsekwensi dari hal tersebut muncul prostitusi terselubung dalam bentuk warung remang-remang teh poci, dan“Ciblek” istilah prostitusi jalanan yang masih tergolong belia. Kita juga pernah mendengar kabar baru-baru ini adanya kucing-kucingan Satpol PP dengan “gadis matic”. Hal inilah yang disinyalir sebagai keresahan masyarakat.

Pembubaran yang dilakukan pemerintah akan memberikan konsekwensi logis bagi kepolisian untuk lebih profesional saat menggrebek pasangan mesum di hotel atau bahkan merazia tempat lain yang diduga sebagai kedok bisnis lendir dan peredaran narkoba secara senyap atau tanpa keributan. Hal ini sangat dibutuhkan untuk menjaga Kota Semarang tetap ramah investasi. Satpol PP dan pihak terkait juga diharapkan lebih ekstra dalam patroli prostitusi jalanan.

Nah, untuk keresahan para WPS pasca ditutupnya area tersebut menjadi membuat penasaran dan perdebatan tersendiri. Adakah kekuatan dalam diri mereka untuk benar-benar menjalani kehidupan sosial sebagaimana lazimnya masyarakat yang lain? Hal ini mengingat untuk dapat menjalani hidup dengan berkeluarga menjadi terbuka (bagi yang benar-benar bertaubat), meskipun tantangan atau godaan untuk iktikad baik tersebut tidaklah tentu ringan.

Sebab, bila menilik pada sisi kehidupan ekonomi di mana mereka selama menjalani hidup sebagai WPS dapat meraup pundi-pundi uang yang tak perlu kita bayangkan banyaknya dalam hitungan hari, namun kemudian harus beralih profesi menjadi seorang penjual makanan atau bahkan merintis catering misalkan, atau bahkan dalam level warung makan kecil-kecilan. Perbandingan penghasilan akan kedua hal tersebut memang berbeda, dan bahkan jauh. 

Apapun yang akan kita saksikan nanti, dalam hal ini redaksi energibangsa.id memberikan apresiasi atas keberanian Pemerintah Kota Semarang dalam menyambut program Kementrian Sosial Republik Indonesia, Menuju Indonesia Bebas Lokalisasi. Apreasiasi yang tak kalah besarnya juga redaksi energibangsa.id berikan pada para pengelola, dan WPS yang dengan tegar menyambut baik program Kemensos tersebut.

Perihal kekhawatiran masyarakat akan sirna dengan sebuah keyakinan untuk berpikir positif terhadap mantan WPS, dan kekhawatiran para WPS juga akan lenyap dengan tekad dan keyakinannya pada Sang Pencipta. Dalam hal ini, pesan moral yang perlu dibangun adalah berfikir dan bersikap positif dalam menjalani takdir manusia. Semoga kita semua mau dan mampu kembali ke jalan yang benar.

Related Articles

Back to top button