Kabar IndonesiaNasionalReligius

Doa “Memule” Mbah Moen di Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata

ENERGIBANGSA.ID – Ulama kharismatik asal Rembang Jawa Tengah KH Maimoen Zubair atau yang akrab kita sebut Mbah Moen telah wafat pada 6 Agustus lalu di Makkah saat melaksanakan ibadah haji. Jenazah Mbah Moen kemudian dimakamkan di Al Ma’la Mekkah, sesuai dengan pesan wasiatnya.

Energi bangsa ini memang berkurang seiring berpulangnya Sang Kiai yang nasionalis tersebut. Pastor Kepala Campus Ministry Unika Sogijopranoto Semarang, Romo Aloys Budi Purnomo Pr mengaku turut berduka atas kabar lelayu tersebut. Romo Budy, sapaan akrabnya, juga melakukan refleksi pribadi dalam bingkai NKRI atas berpulangnya Sang Kiai yang segala titahnya dewasa ini ramai dijadikan refrensi masyarakat.

“Saat mendengar dan membaca kabar duka wafat Mbah Moen, saya langsung membuat refleksi pribadi dalam konteks NKRI,” kata Romo Budi di Unika Soegijopranoto Semarang, Gajahmungkur Kota Semarang, Minggu (11/8/2019) malam.

Romo Budi mengaku terinspirasi atas kegigihan Mbah Moen yang gencar dan lantang menyuarakan nasionalisme dan Pancasila. “Fokusnya adalah kharisma Mbah Moen sebagai pemimpin yang dengan gigih merawat dan mewartakan Pancasila dan NKRI harga mati dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.

Refleksi itu dia kirim dan dimuat keesokan harinya di Harian Suara Merdeka pada 7 Agustus, tepat satu hari setelah kabar tersebut. Tulisan Romo Budi yang mengungkapkan perjuangan Mbah Moen tercetak pada kolom Wacana, halaman 6 berjudul  Pemimpin Kharismatis Keindonesiaan.

“NKRI harga mati bagi Mbah Moen adalah NKRI sejati sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, pasti bukan NKRI beryariah,” tegasnya.

Bagi Mbah Moen, lanjutnya, NKRI tak berlawanan dengan keislaman. Keislaman dan Keindonesiaan adalah laksana sepasang tangan yang merajut dan merawat keberagaman dan kebersatuan. “Semua diberi ruang setara sebagai warga bangsa. Mbah Moen tak pernah diskriminatif. Menerima dan merangkul siapa saja,” bebernya.

Itulah sebabnya, lanjutnya, tanpa ragu saya sebagai Pastor Katolik mengajak bersinergi Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) dan Gusdurian Semarang untuk menyelenggarakan “Doa Memule 7 Hari Mbah Moen” pada hari Senin (12/8/2019, pukul 18.00 – selesai).

“Meski sebenarnya, Mbah Moen tak membutuhkan doa kita sebab saya yakin Mbah Moen sudah bahagia di surga. Bahkan Mbah Moen-lah yang berdoa bagi kita semua yang masih berziarah di dunia ini. Pasti, Mbah Moen mendoakan kita semua agar kita rukun, bersatu dan bersaudara sebagai warga bangsa Indonesia, apa pun agama dan kepercayaan kita,” ulasnya menerangkan.

Maka, imbuhnya, “Doa Memule 7 Hari Mbah Moen” lebih merupakan peristiwa untuk mewarisi spirit Mbah Moen sebagai pribadi religius dan nasionalis sekaligus. Saya mengajak siapa saja yang hadir untuk berdoa bersama Mbah Moen. Mbah Moen berdoa dari surga. Kita berdoa dari dunia tempat kita masih berziarah seraya menjaga keberagaman dalam kebersatuan.

Dengan itu, kita menghormati Mbah Moen dan bertekad melanjutkan spirit Mbah Moen dalam menjaga, merawat dan mewartakan NKRI sebagai rumah kita bersama berdasakan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Related Articles

Back to top button