fbpx
Tokoh Kita

Dituduh Radikal, Begini Profil Lengkap Din Syamsuddin

SEMARANG, energibangsa.id—Tokoh dan ulama Din Syamsuddin diisukan sebagai individu radikal. Atas isu itu, muncul petisi daring yang menolak Din radikal.

Terpantau, Senin (15/2/2021) pagi, lebih dari 13.000 warganet menandatangani dukungan untuk Din Syamsuddin.

Petisi daring ‘Pak Din Syamsuddin Tidak Radikal’ tersebut tertuang melalui laman change.org yang kerap digunakan warganet untuk mendukung atau menolak isu terkini.

Melansir artikel viva.co.id, begini profil sosok ulama, tokoh Muhammadiyah serta Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Profil Din Syamsuddin

Din Syamsuddin memiliki nama lengkap Muhammad Sirajuddin Syamsuddin. Din, lahir di Sumbawa, NTB pada 31 Agustus 1958.

Din menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di madrasah Ibtidaiyah  dan tsanawiyah Nahdhatul Ulama (NU) Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Selesai dari sana, Din hijrah ke Jawa Timur. Ia mondok di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Jawa Timur dan menyelesaikannya pada tahun 1975, dalam usia 17 tahun.

Usai ‘mondok’, Din melanjutkan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN) di Falkultas Ushuluddin, Jurusan Perbandingan Agama dan sukses meraih gelar sarjananya pada tahun 1982.

Din tergolong sosok yang beruntung. Dia meneruskan pendidikan master dan doktornya di University of California, Los Angels (UCLA), Amerika Serikat, Interdepartmental Programme in Islamic Studies.

Aktif di organisasi, partai dan dunia akademis

Selain berkutat di pendidikan, Din juga terlihat aktif di organisasi. Sejak usia pelajar, dia diberi kepercayaan memimpin Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) Cabang Sumbawa.

Pun saat kuliah, ia juga aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), berlanjut ke Pemuda Muhammadiyah, bahkan sampai ke organisasi induknya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Tak hanya itu, Din Syamsuddin pun sempat menyelami dunia politik, sekitar 7 tahun lamanya, sejak tahun 1993.

Dia dia dipercaya menjadi Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan DPP Golkar dan pernah menjadi anggota MPR dari Fraksi Golongan Karya.

Sempat pula ia ditunjuk menjadi Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, Depnaker RI.

Namun, setelah itu, mulai tahun 2000, Din mengundurkan diri dari dunia politik dan aktif di dunia akademisi dan organisasi keagamaan dan sosial.

Ia menjadi dosen di berbagai perguruan tinggi, seperti UMJ, UHAMKA, UI, dan UIN. Gelar kehormatan Guru Besar pun diperolehnya dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Aktif di dunia internasional

Selain aktif sebagai ketua umum PP Muhammadiyah selama 10 tahun, Din juga aktif di dunia internasional, seperti di Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC).

Ia juga aktif di World Islamic People’s Leadership (WIPL), World Council of World Islamic Call Society (WCWICS), Asian Committee on Religions for Peace (ACRP), World Peace Forum (WPF).

Di Indonesia sendiri, Din sering dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang kritis kepada kebijakan pemerintah.

Selain dikenal sebagai cendikiawan, akademisi, dia juga dikenal sebagai tokoh yang sangat pluralis dan toleran terhadap agama lain.

Meski toleran tehadap orang lain, ia terkenal punya sikap dan prinsip Islam yang kuat.

Pada tahun 2014, Din mendapat mandat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Posisi itu menggantikan KH. Sahal Mahfudz karena meninggal dunia.

Pada periode berikutnya, Din Syamsuddin kembali diberi amanat menjadi Ketua Dewan Pertimbangan MUI 2015-2020. (*)

Related Articles

Back to top button