fbpx
Ekonomi & BisnisPendidikanRagam Bangsa

Di Malaysia, Anak Magang Akan Dibayar. Kalau di Indonesia?

ENERGIBANGSA.ID – Mengingat persaingan kerja yang semakin ketat, melakukan magang bisa menjadi salah satu upaya yang tepat dilakukan oleh para mahasiswa agar kualifikasinya lebih berkualitas.

Setiap universitas di Indonesia bahkan menjadikan magang sebagai salah satu prasyarat kelulusan bagi mahasiswa.

Tak hanya dari universitas, ada pula calon tenaga kerja yang melakukan magang secara mandiri guna menempa diri menjadi lebih mumpuni. Sehingga, kemampuan dan pengalaman baru akan mereka dapatkan untuk ditulis dalam Curriculum Vitae (CV).

Namun apakah effort yang mereka keluarkan ketika magang sepadan dengan umpan balik yang diperoleh? Apakah mendapat penambahan skills itu sudah cukup?

Artikel dari Globe and Mail menjabarkan pengalaman seorang lulusan sarjana. Sesaat setelah lulus, ia menerima tawaran magang dari perusahaan start-up (rinitisan) yang minim pendanaan sehingga ia tidak mendapatkan bayaran. Namun dari magang tersebut ia mengaku mendapat pengalaman kerja yang dia butuhkan sehingga program ini adalah langkah awal yang baik untuknya.

Di sisi lain, pihak perusahaan juga mengatakan keuntungan dari adanya magang tanpa bayaran. Pemilik perusahaan menilai magang sebagai suatu alat atau jembatan perekrutan. Dengan kata lain, orang-orang akan magang dengan suka rela dan tidak mendapat bayaran bukanlah suatu masalah.

Namun Menteri Sukan dan Belia Malaysia, Syed Saddiq menyatakan hal yang berbeda. Melalui akun Twitternya, ia kini tengah mengupayakan pemberian gaji untuk anak magang. Hal tersebut dimulai dari lini Kementerian dan Agensi Kerajaan.

“Setiap tahun kita melihat puluhan ribu anak muda melalui latihan amaliyah ataupun internship selama lebih tiga bulan tetapi ada yang tidak dibayar satu sen pun. Hari ini, dalam kabinet, Alhamdulillah, kita telah pun bersetuju secara konsensus untuk mengembalikan semula, paid internship memulai dari semua Kementerian dan Agensi-agensi Kerajaan,” ujar Menteri muda asal Johor Bahru ini.

Informasi yang diperoleh Energi Bangsa, pada bulan November tahun 2018 lalu, sejumlah mahasiswa di Quebec, Kanada melakukan demonstrasi menuntut pembayaran gaji untuk anak magang. Para mahasiswa berujar bahwa mereka juga harus bekerja lembur selama magang namun tidak mendapat bayaran.

Darren Walker, Presiden Ford Foundation pada tahun 2018 pernah menjelaskan bahwa anak magang yang berasal dari keluarga mampu bisa mengikuti magang selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan karena mendapat sokongan dari orang tuanya. Sementara bagi anak magang dari keluarga kurang mampu, hal ini bertolak belakang.

Kalau di Indonesia, apakah anak magang yang tidak mendapat gaji itu hal yang lumrah?

“Aku gak papa sih gak dapat bayaran. Yang penting aku dapat pengalaman kerja buat ditulis CV. Tapi walaupun gak dibayar, pas hari terakhir magang aku diberi kenang-kenangan bag pack sama perusahaan tempatku magang. Yaa, hitung-hitung reward kecil-kecilan,” ungkap Farida, mahasiswa semester akhir dari Fakultas Ekonomi Unnes kepada Tim Energi Bangsa.

Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mendefinisikan magang pada Pasal 1 Ayat 11 sebagai berikut:

“Pemagangan adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja/buruh yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.”

Lebih lanjut, PerMenakertrans Nomor PER/22/MEN/IX/2009 mengatur tentang penyelenggaraan pemagangan di dalam negeri. Misalnya hak dan kewajiban karyawan magang dijelaskan pada Pasal 15 Ayat 1 dan 2, serta Pasal 16 Ayat 1 dan 2, yang dirangkum dalam tabel di bawah ini:

Di Malaysia, Anak Magang Akan Dibayar. Kalau di Indonesia?
Sumber: Pedoman untuk Pengusaha: Program Pemagangan di Indonesia (Menyiapkan Kaum Muda sebagai Tenaga Kerja), dari Organisasi Perburuhan Internasional, 2015

Meskipun perusahaan memperoleh beragam benefit dari anak magang, namun perlu diperhatikan jumlah dan lama waktu magang. Rekrutmen anak magang di Indonesia maksimal 30 persen dari total karyawan dengan jangka waktu paling lama satu tahun. Apabila melebihi itu, maka perusahaan sebaiknya merekrut anak magang itu menjadi karyawan tetap.

Setiap perusahaan pasti memiliki kebijakannya masing-masing. Namun ada baiknya pertimbangkan pemberian payroll untuk anak magang, ya.

Kalau Sobat Energi ini #TimDibayar atau #TimGakDibayar nih saat magang?

Related Articles

Back to top button