Pendidikan

Di Bawah LP Maarif NU, Madrasah di Jateng Bebas Terorisme

ENERGIBANGSA.ID – Jajaran pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif PWNU Jawa Tengah layak mendapatkan apresiasi, karena madrasah dan sekolah yang bernaung di bawah bendera LP Maarif NU terbebas dari ajaran terorisme yang bisa merusak energi bangsa.

Menurut Sekretaris PWNU Jateng, KH Hudallah Ridwan Naim, sampai hari ini tidak ada satupun teroris yang muncul dari madrasah dan sekolah di bawah naungan Ma’arif.

“dari sekitar tiga ribuan sekolah dan madrasah Ma’arif, tidak ada satupun yang melahirkan terorisme. Justru teroris lahir dan banyak di sekolah-sekolah negeri. Mereka dibayar negara tapi justru melahirkan orang yang melawan negara,” kritiknya sebagaimana dilansir di harianjateng

Berdasarkan pengamatan tim energibangsa pada tahun 2015, hasil survei SETARA Institute for Democracy and Peace (SIDP) yang dilakukan pada siswa SMA Negeri di Bandung dan Jakarta menunjukkan, sekitar 8,5 persen siswa setuju dasar negara diganti dengan agama dan 9,8 persen siswa mendukung gerakan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).

Hasil penelitian PPIM UIN Jakarta tahub 2017 yang dilakukan terhadap siswa/mahasiswa dan guru/dosen dari 34 provinsi di Indonesia, menunjukkan sebanyak 34,3 persen responden memiliki opini intoleransi kepada kelompok agama lain selain Islam.

Menurut KH Hudallah Ridwan Naim, di wilayah Jateng trend-nya hampir serupa. Sekolah, madrasah, maupun kampus negeri rentan disusupi faham radikal dan intoleran.

Hal itu dapat dilihat dari data yang sudah dirillis BNPT pada 2018 bahwa 7 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terpapar radikalisme. Mulai dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

“Hal ini bisa jadi karena banyak program pemerintah yang tidak menyelesaikan masalah di akar rumput khususnya di lembaga pendidikan negeri,” terangnya.

Sementara itu, Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh menceritakan pengalamannya saat awal-awal dulu mengajar di sekolah. Beliau mengakui radikalisme di sekolah negeri memang tersistem dan menjadi lahan empuk penyebaran faham yang bertentangan dengan agama dan nasionalisme.

Bahkan, untuk di kampus negeri, menurutnya adanya organisasi mahasiswa seperti PMII, HMI, dan GMNI tidak bisa melawan pergerakan HTI.

“Simpulannya, saat ini PMII, HMI, dan GMNI susah untuk melawan pergerakan perkembangan ideologi HTI yang masih berjalan dan menyusup di kampus-kampus negeri,” katanya.

Pihaknya berharap, LP Ma’arif yang menaungi ribuan madrasah dan sekolah se-Jateng untuk konsisten mengajarkan Islam rahmat dan toleran dan menjunjungtinggi nasionalisme. Sudah saatnya semua energi bangsa bersatu, menjaga konsistensi dalam menjaga keutuhan NKRI.

Related Articles

Back to top button