Opini / Gagasan

Dengungan Buzzer Politik, Rusak Demokrasi di Indonesia

ENERGIBANGSA.ID – Fenomena buzzer politik kian menjadi sorotan publik dengan berbagai macam narasi yang disuguhkan. Setelah pemilu 2019 yang ramai dan memanas, para pendengung kembali ikut bergerak aktif di dunia maya menanggapi penolakan kebijakan pemerintah.

Telah kita ketahui sebelumnya, kontroversi DPR yang mengesahkan revisi Rancangan Undang-Undang menimbulkan banyak aksi turun ke jalan dan gelombang demonstrasi dari berbagai lapisan masyarakat mengajukan tuntutan atas ketidakadilan yang ada dalam pasal ngawur RUU tersebut.

Fokus mengamati perkembangan aksi masyarakat yang turun ke jalan membuat kita sedikit tidak menyadari jika di sisi lain ada pihak para buzzer yang riuh menggembor-gemborkan narasi konspirasi terhadap isu politik yang seharusnya tidak dilakukan.

Istilah buzzer belakangan ini mencuat di telinga masyarakat terlebih saat kondisi politik di Indonesia sedang berada di masa sensitif. Buzzer bukan kata asing lagi, tetapi baru-baru ini kepopulerannya cenderung dicap negatif karena disalahgunakan untuk menyebarkan hal-hal berbau politik baik dengan fakta atau hoaks dan mendongkrak popularitas suatu kelompok atau tokoh tertentu.

Awal kemunculan Buzzer memiliki fungsi yang kita ketahui memiliki manfaat untuk pemasaran produk dan jasa sesuai dengan etika yang ada. Namun, celah yang membuat para profesi buzzer ini tertarik dengan tawaran yang menggiurkan.

Kita sebagai masyarakat yang netral harus bisa memilih dan memilah dengan cerdas informasi yang tersebar di media sosial. Ungkapan provokatif terkadang membuat kita memiliki sudut pandang yang sempit dan menyimpulkan terlalu cepat sehingga muncul perdebatan yang tidak produktif.Keterlibatan buzzer dalam lingkaran politik saat ini dapat merusak citranya dan pemaknaan buzzer itu sendiri di masyarakat.


Dilansir dari Kompas.com Peneliti Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG) Mohammad Rinaldi Camil menilai, ada pergeseran pandangan dan pemaknaan publik menyangkut buzzer. bergerak transparan dan menjaga akuntabilitas. Mereka merupakan influencer yang jelas, memiliki spesialisasi, memiliki jaringan luas dan mampu memengaruhi persepsi publik untuk sebuah brand atau produk.


“Begini, buzzer itu awalnya sebuah profesi yang legal ya. Bisa dimaknai secara netral karena dia digunakan untuk kepentingan promosi brand atau produk ya. Untuk menaikkan citra produk itu sehingga untuk kepentingan pemasaran dari produk atau brand, Semuanya bernuansa positif ya sebenarnya dari brand dan promosi. Karena itu kan kepentingan membangun brand image,” kata Rinaldi

Menurutnya, pihak yang menyadari potensi buzzer di dunia politik adalah media agency untuk bisnis politik pencitraan. Sejak masuk ke politik, dia ini perlahan bercitra negatif karena cara kerja buzzer politik itu dia menaikkan citra seorang kandidat dengan mempromosikan prestasi. Tapi di sisi lain dia menyerang kandidat lawan, dengan fitnah, hoaks dan cara-cara yang difabrikasi.

Melihat kondisi dunia politik yang seakan dapat mengahalalkan berbagai cara termasuk memanfaatkan buzzer, yuk sobat energi jadilah buzzer positif yang membangun semangat produktif.

Related Articles

Back to top button