Kabar Indonesia

Hukum Demo dalam Islam, Bolehkah?

energibangsa.id — Disahkannya UU Cipta Kerja atau Omnibus Law mengundang berbagai aksi demonstrasi turun ke jalan bahkan ada pula yang berakhir ricuh.

Unjuk rasa atau demonstrasi (demo) diartikan sebagai bentuk gerakan protes yang dilakukan di muka umum untuk menyampaikan aspirasi, mengontrol, menolak dan menentang sebuah sikap, kebijakan serta lain sebagainya.

Unjuk rasa ini umumnya dilakukan oleh mahasiswa. Namun di alam demokrasi seperti saat ini, demo juga boleh dilakukan siapapun untuk menyuarakan aspirasinya.

Demo menurut MUI 

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof. Dr. Huzaemah Tahido Yanggo mengungkapkan bahwa Al-Quran maupun hadits tak pernah mengulas tentang aksi unjuk rasa secara tekstual.

Huzaemah menjelaskan, saat zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat Khulafaur Rasyidin, pun tidak ada aksi unjuk rasa yang beramai-ramai turun ke jalan.

Namun, semua ulama dari dulu sampai sekarang menganjurkan untuk berbuat amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak berbuat baik dan menjauhi larangan Allah SWT)

Huzaemah menyebut bahwa aksi demonstrasi berkaitan dengan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar. Menurutnya dasar menyampaikan pendapat atau saran itu sebagai tindakan amar ma’ruf.

Ia berpandangan, Islam pada dasarnya membolehkan aksi demonstrasi selama tidak anarkis.

Pendapat Gus Baha

Ulama Nahdlatul Ulama (NU), KH Bahauddin Salim atau sosok yang sering disapa ‘Gus Baha’ juga pernah mengungkap mengenai demonstrasi dalam Islam.

Seperti disebutkan, pokok dari demonstrasi adalah “memperlihatkan”, sehingga fleksibel. Gus Baha menjelaskan, demonstrasi boleh-boleh saja selama tidak merugikan orang lain, tidak anarkis, tidak madharat bagi kelompok lain.

Kyai NU asal Rembang Jawa Tengah itu juga menyampaikan, sebagian ulama berpendapat unjuk rasa dapat berujung pada keharaman. Dikatakan haram, jika demo itu anarkis, sedangkan demo yang diperbolehkan adalah demo yang tertib. Dasarnya adalah hukum fikih. (dhanti/ EB).

Related Articles

Back to top button