fbpx
Ekonomi & Bisnis

Dedi Mulyadi: Bulog, Perusahaan yang Membingungkan !

JAKARTA, energibangsa.id—Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi mulyadi kembali menyoroti kinerja perusahaan BUMN Bulog.

Ia menilai Bulog gagal dalam melakukan dua hal. Pertama, Bulog tak memiliki kemampuan menyerap gabah petani.

Akibatnya, tengkulaklah yang membeli gabah petani. Di sisi lain, tak semua tengkulak punya modal untuk membelinya.

“Banyak tengkulak yang baru bisa membayar setelah penjualan. Sehingga ada banyak titik waktu para petani kecil yang mengalami kekosongan keuangan, “kata Dedi Mulyani, Rabu (24/3/2021), seperti dilansir dari Tribunnews.com.

“Itu karena menunggu hasil gabahnya menjadi beras dan laku di pasar,” ujarnya.

Penyerapan gabah tak maksimal

Menurut Dedi, hal kedua yang gagal dilakukan Bulog adalah tidak maksimalnya menyerap gabah petani.

Ia mengatakan daya serap  Bulog rendah karena sering kali membeli beras di bawah harga tengkulak.

Misalnya, tengkulak membeli gabah dari petani Rp4.200 per kilogram, sedangkan Bulog hanya Rp3.800 per kilogram.

Hal itu karena Bulog memiliki kehati-hatian dalam membeli gabah.

Lebih lanjut, Dedi juga menyebut, ternyata tidak mampu menjual beras. Hal itu bisa dilihat dari masih banyaknya stok lama yang tak bisa keluar.

“Banyak beras lama tak terpakai berarti tak bisa keluar kan, sehingga mengalami kerusakan,” kata Politikus Partai Golkar ini.

Tak punya gudang dengan teknologi memadai

Kemudian, lanjut Dedi, Bulog tidak memiliki gudang dengan tekonologi memadai dalam penyimpanan beras.

Akibatnya, beras yang disimpan di gudang tidak bisa bertahan lama sehingga mudah busuk.

Selama ini, Bulog menyimpan beras hanya dengan mengganjal memakai valet sehingga beras tidak bisa bertahan lama.

“Jadi Bulog itu seperti terperangkap. Beli (gabah) nggak bisa, jual (beras) juga nggak bisa. Bahkan beras sisa impor tahun 2018 dan 2019 juga belum terjual. Ini yang menjadi problematika dari sisi pengelolaan,” kata Dedi.

Dedi mengatakan, dengan kondisi seperti itu, kinerja Bulog membingungkan. Ia mengatakan, tugas Bulog itu apa dan yang dikerjakan itu apa.

“Beli tak bisa, jual juga nggak bisa. Andaikan bisa beli impor, setelah impor tak bisa jual juga, “ terangnya.

“Seharusnya Bulog punya peran menyerap gabah petani. Namun gabah petani tak bisa dibeli juga. Misalnya, dari 8 juta ton beras yang bisa dibeli Bulog paling 30 persen,” pungkasnya. (*)

Related Articles

Back to top button