Gaya HidupOpini / GagasanRagam Bangsa

Daripada Razia Skincare, Anak OSIS Mending Razia Hal Ini

ENERGIBANGSA.ID – Semasa saya bersekolah dulu, ponsel adalah barang yang lazim dirazia oleh para guru featuring anak osis yang menamai dirinya dengan istilah Tim Penegak Kedisiplinan (TPK).

Selain ponsel, biasanya hal yang menjadi incaran TPK adalah kelengkapan atribut seragam, tingkat kegondrongan rambut anak laki-laki, dan warna sepatu. Padahal kalau warna sepatunya match dengan warna seragam batik sekolah kan enak dilihat ya. Jadi lebih aesthetic kalau kata anak Instagram.

Tapi baru-baru ini ada jenis perintilan lain yang masuk dalam daftar haram untuk dibawa ke sekolah, yaitu skincare.

Whaat??

Melihat berita itu, saya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mendengarkan jingle Geprek Bensu yang begitu easy listening. Berita tentang anak OSIS yang merazia produk-produk skincare ini awalnya viral di Twitter setelah ada seorang perempuan yang mencuitkan kekesalannya pada anak OSIS.

Semakin viral lagi setelah ada akun fanbase yang mengangkat topik ini dan akhirnya memancing kemarahan anak-anak Twitter khususnya para ciwi-ciwi pejuang kesetaraan kecantikan.

Saya pun sebal melihatnya. Emang kenapa sih kalau ke sekolah bawa skincare? Lagi pula yang dibawa itu kan basic skincare seperti sabun muka, body lotion, dan parfum.

Belajar dari pagi sampai sore, berdesak-desakan di kantin sekolah, dan tegang kalau tiba-tiba ditunjuk mengerjakan soal di papan tulis oleh guru pasti membuat siswa-siswi merasa stres, kucel, dan kusam. Lalu, apa salahnya sekadar penyegaran dengan cuci muka dan menggunakan wewangian untuk meningkatkan mood? Bukankah kita diajarkan untuk menjaga kebersihan dan keindahan?

Dear adik-adik OSIS, dari pada kalian sibuk-sibuk merazia skincare dan mendapat dosa karena menyakiti hati siswi-siswi dengan “membumihanguskan” skincare sitaan itu, mending kalian merazia hal lain yang lebih krusial seperti berikut ini.

Siswa yang bilangnya gak belajar tapi dapat nilai bagus

Nih! Anak OSIS harus give attention to this case. Hal ini sangat meresahkan dan dalam jangka panjang akibatnya bisa memutus tali silaturahim di antara para lakon yang terlibat.

Bagaimana tidak, oknum siswa atau bisa kita sebut dengan “teman” ini ternyata menunjukkan perilaku yang tidak terpuji. Sesaat sebelum atau setelah ujian, para siswa-siswi biasanya akan membahas betapa sulitnya menjawab soal-soal ujian. Nah, oknum siswa ini biasanya akan mengaku tidak bisa mengerjakan soal itu karena belum belajar sebelumnya.

Duh, aku belum belajar, jadi gak tahu jawabannya. Tadi jawabnya asal-asalan aja

Hati-hati jika ucapan ini terlontar dari mulut manis temanmu!

Tapi begitu nilai ujian dibagikan, jeng jeng..

Semua mata tertuju padanya, sebab ternyata ia mendapat nilai bagus melebihi ekspektasi dan melukai hati teman-teman hingga berujung pada renggangnya tali pertemanan.

Alih-alih memelas, teman-teman pasti berprasangka bahwa ucapannya yang lalu hanyalah tipuan agar tidak ada yang menyontek jawaban ujiannya.

Haah.. sabar.. sabar.. *Sambil mengelus dada Chris Evans*

Bakso, saus, dan kentang goreng oplosan

Ini adalah awal mula dari kisah cinta yang ngakunya sayang tapi ternyata selingkuh! Penipu!

Bakso, saus dan kentang goreng adalah jajanan khas setiap sekolah. Tapi tahukah kamu, ternyata semua yang kamu makan itu palsu dan semu.

Bakso hakikatnya terbuat dari komposisi seimbang antara daging sapi dan tepung tapioka. Namun ternyata yang disajikan lebih banyak tepung tapioka a.k.a tepung aci dengan perisa daging sapi yang lekat rasa micin.

Pelengkap bakso pun kita membayangkan betapa segarnya saus tomat dan saus cabai berpadu dengan kuah panas. Namun ternyata saus itu justru terbuat dari ketela dan pepaya. Di mana tomat-tomatku yang ginuk-ginuk itu??

Tak hanya itu, camilan kentang goreng pun tak sepenuhnya kentang. Di dalamnya ada oplosan dari ketela goreng yang disamarkan dengan bentuk potongan yang dibuat mirip dengan kentang lalu dibalut tipis dengan tepung terigu.

Apakah kita masih mau tenggelam dalam penipuan ini? Apakah anak-anak OSIS hanya duduk diam melihat hal yang meresahkan ini? Apa kalian tidak memikirkan kandungan gizi dan nutrisi yang diserap tubuh ini? Sungguh laknat rezim ini!

Siswa yang suka parkir sembarangan

Ini tak kalah menyebalkan, anak-anak OSIS harus turun tangan dan merapikan motor-motor yang terpakir tak beraturan.

Di sekolah ada beragam sumber daya yang dapat diberdayakan, ajaklah anak-anak Paskibra dan anak-anak Pramuka untuk berkolaborasi menata motor menjadi tiga bersaf dan tiga berbanjar.

Dibuat seperti ini misalnya

Motor yang terparkir sembarangan akan mengganggu konsentrasi siswa dalam belajar di sekolah. Saat ia bersemangat ke sekolah lalu melihat parkiran yang tidak rapi, ia akan kebingungan mencari ruang untuk meletakkan motor Vario atau Satria FU-nya.

Waktu yang seharusnya ia habiskan untuk berjalan santai menuju kelas berganti menjadi emosi karena harus merapikan motor lain terlebih dahulu. Setelah itu, di dalam kelas pun konsentrasinya akan terbelah antara menyimak pelajaran dari guru dan memikirkan apakah motornya sudah terparkir dengan aman di tempat tadi?

Sungguh anak-anak OSIS harus memasukkan hal ini dalam program kerjanya.

Fasilitas UKS

Unit Kesehatan Sekolah (UKS) adalah satu tempat yang harus diperhatikan betul sarana dan prasarana di dalamnya.

Saat ada siswa yang sakit, biasanya ia akan dirujuk ke ruang UKS untuk beristirahat. Tidak semua sekolah memiliki petugas PMR yang selalu siap siaga selama jam pelajaran berlangsung, maka dalam hal ini peran teman yang sedang sakit dibutuhkan.

Betapa mulianya seorang teman harus meninggalkan kesempatannya menggali ilmu di dalam kelas demi menemani kawannya yang terbaring lemah di kasur UKS yang tipis.

Oleh karena itu, sebaiknya ada balas jasa untuk seorang teman yang rela menunggui di ruang UKS. Bersama dengan petugas PMR, anak-anak OSIS harus melakukan sweeping dengan merazia dan meninjau fasilitas UKS untuk kenyamanan teman penunggu.

Saat siswa yang sakit sedang beristirahat, teman penunggu hanya bisa duduk, diam, merenung, dan melihat patung organ dalam yang terpajang. Betapa nelangsanya hidup teman itu?

Maka anak-anak OSIS harus memperjuangkan kelengkapan ruang UKS dengan menghadirkan fasilitas Wi-Fi, alat brew coffee maker, dan tontonan Netflix. Itu saja cukup.

Menurut saya pribadi, merazia skincare sama sia-sianya dengan mencintai orang yang tak bisa kita miliki. Jadi daripada melakukan hal sia-sia kuadrat, maka hentikanlah perbuatan itu.

Kalau menurut Sobat Energi, hal apa yang sebaiknya dirazia oleh anak-anak OSIS?

Related Articles

Back to top button