fbpx
Essai

Dari Dalam Penjara, Dia Tak Henti Berkarya

oleh Gilang Dwiangga Putra*

Meskipun raga terbelenggu namun pikiran tetap harus bebas terbang tinggi ke angkasa.

Ungkapan ini dirasa cocok disematkan untuk mereka yang ditahan didalam penjara akan tetapi masih mampu menuangkan buah pemikiran dalam bentuk tulisan, artikel hingga buku.

Kenapa tidak? Bagi mereka penjara hanya sebatas menahan dan merenggut, kebebasan raga semata namun tidak untuk pikiran mereka, yang menolak turut terkumkum, terbelunggu, terenggut dan terkurung kebebasannya.

Sejarah pun mencatat, ada banyak tokoh didunia ini meski dipenjara mereka mampu menghasilkan karya

Bahkan beberapa karya yang mereka tulis dibalik dingingnya jeruji besi mendapat apresiasi dan menjadi fenomenal ketika dipublikasi atau diterbitkan.

Diantara tokoh-tokoh itu salah satunya terselip nama Arswendo Atmowiloto.

Dari Dalam Penjara, Dia Tak Henti Berkarya
potret Arswendo Atmowiloko semasa hidup (dok. kompas.com)

Arswendo atau memiliki nama asli Sarwendo merupakan seorang wartawan, sastrawan, dan budayawan Indonesia yang namanya begitu lekat dan dikenal masyarakat seantero nusantara.

Medio 90 an menjadi masa kelam yang harus di hadapi juga dijalani Arswendo. Waktu itu ia harus menerima diseret duduk dikursi pesakitan dan dijebloskan didalam penjara.

Sejatinya hal itu bukan tanpa alasan yang mendasar. Saat memimpin Tabloid Monitor sebagai pemimpin redaksi, majalah yang dipimpin Arswendo itu membuat sebuah jejak pendapat pembaca dengan tajuk “50 Tokoh Dikagumi Pembaca”.

Program Monitor tersebut mempersilahkan kepada pembaca untuk mengikuti polling mengenai siapa tokoh yang paling dikagumi dengan cara mengirimkan karto pos ke alamat redaksi Tabloid Monitor.

Hasil jejak pendapat tersebut menunjukkan posisi teratas diduduki oleh Presiden yang menjabat waktu itu, Soeharto dengan perolehan 5.003 suara dari kartu pos kiriman pembaca .

Posisi kedua ditempati B.J Habibie, lanjut ketiga ada nama Ir. Seokarno, Iwan Fals berada diurutan keempat dan posisi kelima ada perolehan Zainudin Mz.

Bila diperhatikan sekilas nampak biasa-biasa saja dan tidak ada masalah. Tetapi saat lanjut membaca hingga posisi terakhir, diurutan 11 hasil polling tersebut tercuat nama Nabi Muhammad SAW.

Dari 33.963 lembar total kartu pos hasil survei, hanya 616 kartu pos saja yang memilih nama Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang paling dikagumi oleh pembaca Monitor saat itu.

Nama dan hasil perolehan suara Nabi Muhammad SAW kalah dengan raihan suara yang di dapat Soeharto, Soekarno, B.J Habibie, Saddam Hussein dan Siti Rukmana

Bahkan nama Arswendo sendiri yang juga masuk dalam daftar hasil polling berada di posisi ke- 10. Satu tingkat diatas nama Nabi Muhammad SAW yang berada di posisi 11.

Sontak inipun mengundang dan menjadi suatu masalah. Masyarakat yang membaca dan melihat hasil tersebut kemudian tidak terima lalu mendatangi kantor Tabloid Monitor, menerobos dan merusakinya.

Hasil polling yang dimuat oleh Monitor dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan dan merendahkan Nabi Muhammad SAW, karena memuat nama Nabi Muhammad SAW yang kalah dengan Soeharto atau tokoh lainya.

Selain itu, sistem yang dipake dalam polling tersebut dinilai tidak jelas dan serampangan, sehingga hasilnya rancu tidak relevan.dan kontroversial.

Arswendo pun diseret ke meja hijau dan dituntut oleh masyarakat yang merasa tidak terima, meski diketahui dirinya sempat menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.

Dimuka persidangan Arswendo dinyatakan bersalah atas tuduhan penistaan agama dan harus rela dirinya dihukum selama 5 tahun penjara.

Meski dipenjara, tampaknya tak membuat Arswendo merasa bersedih, memikirkan keadaanya ataupun berputus asa. Hal ini terlihat manakala ia aktif, produktif dan tak pernah berhenti dari kegiatan menulis saat menjalani hari-harinya di hotel prodeo.

Tercatat beberapa novel telah ia lahirkan selama mendekam di Lembaga Permasyarakatan (LP) Cipinang Jakarta.

Beberapa novel tersebut antara lain “Kisah Para Ratib”, “Abal-abal”, “Menghitung hari” (sekeluar dari penjara, novel ini diangkat dilayar televisi menjadi sebuah sinetron dan memenangi piala vidya).

Kisah Para Ratib dan Menghitung hari sendiri merupakan beberepa novel yang berisi pengalaman dan pernak-pernik hidup sehari-harinya saat berada di rumah tahanan seperti akses air, kesempatan berolahraga dan urusan seks.

Bagi mereka yang membayangkan penjara sebagai tempat mencekam yang serba gelap bakal dibuat kecele oleh kisah-kisahnya yang jenaka dan seringkali konyol.

Tak hanya novel, dipenjara itu pula Arswendo menulis puluhan artikel, tiga naskah skenario, dan beberapa cerita bersambung yang sebagian diantaranya ia kirimkan ke media cetak seperti Kompas dan Suara Pembahuruan dengan menggunakan nama samaran.

Untuk cerita bersambung, misalnya “Sudesi” (sukses dengan satu istri), di harian Kompas, ia menggunakan nama “Sukmo Sasmitro”.

Sementara cerita bersambung berjudul “Auk” yang dimuat di Suara Pembahuruan ia memakai nama “Lani Biki”, kependekan dari Laki Bini Laki Bini.

Nama tersebut tak mempunyai arti khusus selain nama iseng yang ia pungut sekenannya. Nama lain yang pernah ia pakai adalah “Said Saat” dan “B.M.D Harahap”.

Arswendo memang dikenal sebagai seorang yang gila menulis. Dirinya suka mengarang sedari Sekolah Dasar (SD). Tetapi baru di SMA ia mengirimkan karangannya ke media lokal, Gelora Berdikari.

Beberapa teman dekatnya mengungkapkan hal yang sama. Seluruh kehidupannya, ia dedikasikan untuk menulis dan menulis.

Bahkan sastrawan yang selalu tampil nyentrik dan nyelelek ini mengatakan “Ada yang mengatakan saya ini gila menulis. Ini benar, karena kalau tidak menulis saya pastilah gila, dan karena gila makanya saya menulis,”

Arswendo meneruskan tradisi panjang para wartawan dan sastrawan Indonesia yang tidak kehilangan api ketika dilempar ke dinginnya sel tahanan.

Seperti halnya Marco Kartodikromo dengan tulisan nya  tentang pembuangannya di Digul pada 1927. Karangan Tirto Adhisoerjo dari pembuangannya di Bengkulu pada 1910.

Kemudian ada Mochtar Lubis yang menulis masing-masing satu buku untuk pengalamannya dikurung oleh dua rezim berbeda. Catatan Subversif (1980) merekam pengelamannya di penjala Orde Lama, dan Nirbaya (2008) mencatat waktu-waktunya di Orde Baru. Sebelumnya catatan Mochtar hanya beredar dalam bahasa Belanda lewat buku Kampdagboek (1979).

Mereka tetap memelihara kobaran api dengan terus menulis dan terus berkarya.

Para wartawan dan sastrawan ini dengan cara dan gayanya masing-masing merawat api selama di penjara atau pembuangan.

Jika Arswendo mempertahankan kejenakaannya yang kadangkala kritis dan skeptis, ada yang memilih menulis dengan kritik keras.

Misal saja Ahmad Taufik yang bahkan melakukan kerja investigatif tentang praktik menyimpang akibat broboknya negara mengelola rumah tahanan.

Dari Dalam Penjara, Dia Tak Henti Berkarya
karikatur wajah Arswendo dan ruang kerjanya. (dok. kumparan.com)

Namun amat disayangkan, kemarin, Jumat (19/7) sang meaestro, Arswendo Atmowiloto.telah berpulang ke rumah bapa.

Seperti yang dikabarkan sebelumnya, Penulis novel Dua Ibu dan Keluarga Cemara yang fenomenal ini menghembuskan nafas terakhir akibat penyakit kanker prostat yang ia derita beberapa waktu belakangan.

Sabtu (20/7), Abah sebenarnya dari novel Keluarga Cemara ini telah dimakamkan di Pemakaman San Diego Hilss. Banyak keluarga, kerabat, saudara yang begitu merasakan kehilangan akan sosok nya.

Kini kita tak akan lagi melihat gaya nyentriknya, senyum khasnya, banyolannya, sikap kritis dan sketipsnya hingga sikap nyeleleknya.

Namun seperti yang dikatakan Almarhuma sastrawan perempuan asal semarang NH Dini,“Kamu akan selalu hidup didalam kata-kata mu,”.

Karya mu akan tetap abadi terus abadi dan tak akan pernah mati. Hanya raga tapi kata dan karyamu selalu hidup membara dihati kita semua.

Selamat Jalan Om Wendo, semoga tenang di rumah bapa, di surga. Biarkan kita para sastrawan muda melanjutkan perjuangan untuk melestarikan dan memajukan dunia kesusastraan Indonesia.

Alumnus D3 Politeknik Negeri Semarang. S1 Univesitas Stikubank.

Related Articles

Back to top button