Ragam Bangsa

Congyang, Minuman Khas Semarang yang Bikin “Senang”?

energibangsa.id — Sebagian orang di luar Semarang mengatakan “enggak ke Semarang kalau ngga minum Congyang”. Ungkapan itu nampak menjadi adagium, sehingga Congyang menjadi populer layaknya jajanan khas.

Ya, Semarang memang sarat akan makanan kulinernya yang khas. Mulai dari kue ganjal rel, wingko babat, lumpia, hingga tahu gimbalnya. Kebanyakan orang sudah hafal jenis makanan itu. Tak sedikit pula yang menjadikan makanan itu sebagai buah tangan (oleh-oleh) dari Ibukota Jawa Tengah ini.

Tapi ini perkara lain. Congyang, sebenarnya bukanlah minuman khas layaknya deretan hasil kuliner yang bahkan tersaji di sentra oleh-oleh Semarang. Bukan pula, Congyang tersedia dalam outlet tertentu atau toko-toko ritel ternama di Semarang.

Congyang adalah jenis minuman sejenis Wine yang mengandung alkohol dengan kadar tertentu. Adapun nama-nama lain minuman Congyang diantaranya “Cap Tiga Dewa”, karena terdapat gambar tiga orang mirip dewa pada label botol kemasannya. Orang Semarang lainnya juga menyebutnya: “Ceye (CY)”.

Asal-mula Congyang

Diproduksi oleh CV Tirta Waluyo, Congyang sejatinya hasil fermentasi beras dan gula pasir, sepirit, perasa dan pewarna makanan. Namun perlu diketahui pula, minuman Congyang itu dapat dikategorikan sebagai minuman alkohol tipe B. Dari sejarahnya, pemilik merk atau brand dagang minuman tersebut adalah Koh Tiong, yakni generasi pewaris peracik obat yang digemari kemanjurannya kala itu.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, Koh Tiong adalah penerus Khong A Djong yakni jago kungfu di zamannya. Ia adalah lelaki berdarah Tiongkok yang konon lahir pada 10 Oktober 1896. Diusia 27 tahun, ia diminta orangtuanya menikah pada 1923.

Untuk menghidupi istrinya, Khong A Djong lalu meracik minuman dengan merk “A Djong”. Tak tanggung-tanggung, minuman itu mengandung kadar alkohol 35 persen. Itu artinya, minuman A Djong hampir menyaingi merk Vodka, atau sejenis arak lainnya. Tapi sayangnya, makin lama minuman itu makin tak laku dipasaran warga Semarang.

Sejak 1980-an, minuman A Djong dikonsep sedemikian rupa sehingga memiliki nama: “Congyang”. Selain nama dan cita rasanya berubah, sensasi rasa Congyang tak melulu layaknya minuman alkohol lainnya. Congyang yang juga akrab disebut CY juga mempunyai warna merah kehitaman.

Kali pertama, Congyang dijual dengan kemasan botol yang dilapisi besek dan jerami. Adapun, rumah produksi “jamu” Congyang yang digemari sebagian kaula muda itu di sebelah Klenteng Siu Hok Bio yang lokasinya berada di Jalan Wotgandul, kompleks Pecinan Semarang.

Congyang, mulai dipatenkan pada 1985 atau 35 tahun yang lalu. Tak dipungkiri, pada kemasan terdapat gambar anak kecil yang diapit oleh ratu dan raja. Dengan begitu, Congyang memiliki brand “Cap Tiga Orang”.

Namun sebagian kalangan masyarakat Semarang menyebut Congyang dengan sebutan nama lain: “Tiga Dewa” atau “CY”. Muncul pula ‘anggapan’, “Congyang adalah air kedamaian, air kata-kata yang rasanya manis dan menghangatkan”. Mantab! (*)

Related Articles

Back to top button