Essai

Cita-Cita Mulia dan Jika Kau Gagal CPNS

ENERGIBANGSA.ID – Suatu pagi seorang guru yang bertanya kepada anak-anak didiknya. “Cita-cita kalian besok kalau udah gede jadi apa, nak?”

Anak pertama menjawab “saya ingin menjadi mangaka terhebat, dan anime saya bakal laris seperti death note, naruto, one piece maupun one punchman”

Anak kedua menjawab “saya ingin membuat handphone yang lebih hebat dari apple.”

Anak ketiga menjawab “saya ingin menjadi atlet beladiri seperti bruce lee”

Anak keempat diam saja, hingga Pak guru tadi mendekati. Kemudian anak keempat menjawab “saya ingin jadi PNS pak…maklum pak di negeri ini cuman PNS aja yang dianggap sebagai pekerjaan”

Doktrin Cita-Cita PNS
Nah dari percakapan Pak guru dan siswa-siswanya kita tahu bahwa anak yang keempat memiliki jawaban yang real alias realistis dari apa yang terjadi di masyarakat negeri +62 ini.

PNS adalah cita-cita sebagian besar anak indonesia. Semuanya ingin jadi PNS, semua menuntut jadi PNS, kalau enggak PNS dianggap enggak sukses, apalagi mereka yang sudah kuliah tinggi-tinggi malah berjualan hape ya dianggap enggak sukses kalau enggak jadi PNS.

Mengapa anggapan ini masih saja muncul bahkan di era milenial? Harusnya anggapan semacam ini selesai menjelang akhir era baby boomer kan?

Ada beberapa sebab mengapa PNS masih menjadi pekerjaan idaman atau cita-cita anak indonesia :

Pertama, doktrin keluarga. Keluarga yang masih belum terbuka masih saja menuntut anak untuk menjadi PNS apapun potensinya. Misalnya punya potensi syair udah kuliah sastra terus mau bikin karya kayak Pak Sujiwo Tejo ujung-ujungnya dipaksa jadi PNS.

Kedua, tidak ada ladang potensi nyata sejak sekolah. Sejak sekolah seringkali guru hanya bercerita kayak gini “Itu kakak kelasmu sukses! Sekarang jadi PNS di Dinas XZYABCDE, Saya dulu juga enggak pinter tapi sekarang jadi PNS, yang pinter malah cuman jadi pedagang”.

Lho? doktrin macam apa ini? Apakah yang sukses cuman PNS? Yang jadi kyai? Jadi pedagang sukses? Jadi seniman? Bahkan jadi presiden? Wkwkwkkw.

Ketiga, belum terbukanya pikiran dunia pendidikan tentang pengembangan bakat. Di Indonesia lembaga-lembaga pendidikan masih belum mampu menampung bakat manusia, maka dari itu mau tidak mau mereka harus rela terpaksa menuruti sistem pendidikan yang terkesan “membunuh” kreativitas dan potensi.

Keempa, masyarakat yang belum siap dengan perubahan. Ya inikan era sudah milenial, masih aja nganggep mereka yang sekolah tinggi tapi gak jadi PNS sebagai orang yang gagal, mending belajar lagi aja deh sono.

Gagal CPNS tidak membuat dunia kiamat
Okelah ini lagi musim-musim pendaftaran PNS. Dari jualan jimat hingga perdukunan pun masih saja laris. Ada jimat biar jadi PNS lah, ada jimat sakti PNS lah, bahkan beberapa waktu lalu saya membuat parodi sindiran tentang “Air sakti jadi PNS” meski akhirnya kena nyinyir temen sekantor.

Hari gini masih percaya jimat? Wkwkwkwk masalahnya bukan itu, tapi mental yang harus dibangun untuk bekerja bersama hati karena kita ini insan bukan seekor sapi.

Terus apa yang akan dilakukan jika kita gagal jadi PNS atau bahkan “Maaf, Aku Bukan PNS?”

Ya banyak hal bisa dilakukan kok gaes. Terus kembangkan diri, bekerja keras lebih dari PNS. Belajar lebih banyak dari PNS. Hal ini akan membuat kita lebih terampil dari PNS. Tahu sendirilah PNS kan identik dengan game Zuma, semoga aja enggak.

Terus berkarya jangan berharap pada negara, Mengembangkan kreativitas lebih banyak, Perbanyak amal sholeh, dan Istiqomah dalam kebaikan.

Ya banyak hal yang bisa dilakukan, untuk menyadarkan mereka yang masih mengganggap PNS sebagai pekerjaan utama atau menuntut jadi PNS. Biarlah bukan PNS terus berkarya, abaikan nyinyiran tetangga.

Semoga bermanfaat. Salam Orraaa Umumm!!!

*Ary senpai, M,Ag (Calon Kepala Sekolah), Penulis buku “Maaf Aku Bukan PNS”, Salah satu penulis buku “Sekolah Membunuhmu”

Related Articles

Back to top button