fbpx
Ragam Bangsa

Cerai, Cerai, Cerai! Benarkah Covid-19 Berdampak pada Perceraian?

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Judul artikel media online, cnnindonesia membuat kita tercengang. Judul beritanya adalah: Antrean Orang Mau Cerai di Bandung, Sehari Capai 150 Gugatan. Artikel itu terbit pada Senin (24/8) kemarin.

Dalam pemberitaannya, antrean cerai itu bermula dari postingan video yang menyebutkan puluhan pasangan suami istri mengantre di kantor Pengadilan Agama Soreang.

Gugatan Cerai
Tangkapan layar video antrean perceraian di Pengadilan Agama Soreang Bandung oleh akun Instagram @bandung.update

Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Soreang Ahmad Sadikin membenarkan video tersebut berlangsung di kantornya. Antrean tersebut terjadi sejak pagi hari sebelum persidangan dimulai pada pukul 09.00 WIB.

Diketahui, video puluhan orang sedang antre sidang perceraian yang mengular di Pengadilan Agama Soreang tersebar di media sosial. Salah satunya, akun instagram @bandung.update.

“Bandung’ers, jangan terkecoh
yaa, ini bukan antrian penerima bantuan
sosial, tapi antrian orang-orang yang mau cerai di Pengadilan Agama Soreang…”
tulis unggahan akun Instagram @bandung.update.

gugatan cerai
Tangkapan layar video antrean perceraian di Pengadilan Agama Soreang Bandung oleh akun Instagram @bandung.update

Ahmad menjelaskan bahwa antrean tersebut terjadi lantaran jumlah ruang sidang yang terbatas. Sedangkan para warga yang mengajukan gugatan cerai terbilang cukup tinggi. 

Dalam satu hari pihaknya bisa melayani lebih dari 150 gugatan cerai. Ditambah ada pengunjung yang datang setiap hari.

Pengadilan Agama Soreang pada Juni 2020 bahkan menerima sebanyak 1.012 gugatan cerai. Padahal, rata-rata pengajuan cerai berkisar 700 sampai 800 kasus per bulannya.

Kasus cerai di Semarang naik 3 kali lipat

Sejak bulan Juni 2020 lalu, Pengadilan Agama Kelas 1A Kota Semarang mencatat kenaikan drastis kasus perceraian selama masa pandemi virus corona (covid-19).

Kenaikan kasus hingga tiga kali lipat itu disinyalir disebabkan oleh masalah ekonomi dalam rumah tangga.

Setiap hari panitera setidaknya menerima 100 orang yang mendaftarkan gugatan perceraian. Sekitar 80 persen penggugat datang dari pihak perempuan atau istri.

Miris lagi, sebanyak 2.000 suami istri di Serang, Banten bercerai selama pandemi corona. Masalah ekonomi dituduh paling banyak menjadi sumber di balik perceraian itu.

Sementara itu, Mahkamah Syariah Kota Lhokseumawe juga mencatat sejak Januari hingga Juli 2020, sebanyak 315 perkara perceraian. Sebanyak 145 kasus di antaranya adalah gugatan cerai oleh istri terhadap suaminya.

Kasus cerai di luar negeri

Kasus perceraian juga terjadi di berbagai negara terdampak covid-19. Studi di China menunjukkan, 50,4 persen orang mengalami gejala depresi, 44,6 persen merasakan kecemasan, dan 34 persen menderita insomnia.

Berdasarkan data dari kantor pencatatan sipil di China, tingkat perceraian meningkat secara signifikan karena pasangan menghabiskan terlalu banyak waktu bersama di rumah selama lockdown.

Lebih dari 300 pasangan mendaftarkan perceraian sejak 24 Februari lalu di Provinsi Sichuan, China.

Waduh, satu persatu kok cerai, ya sob! Nampaknya mereka butuh media pemersatu agar tetap teguh. Bukannya, jika bercerai (rumah tangga) mereka pasti runtuh! (dd/EB).

Related Articles

Back to top button