fbpx
Ekonomi & Bisnis

Cek Fakta, Mengapa Tempe Tiba-tiba Sulit Didapatkan?

SEMARANG, energibangsa.id—Tempe dan juga tahu tentu menjadi bagian dari kehidupan banyak masyarakat. Kedua sumber protein bagi kesehatan tubuh itu juga seringkali jadi sumber bahan kuliner.

Maka, tak dipungkiri ketika tempe dan kedelai sulit didapatkan di pasaran, masyarakat menjadi kelabakan. Tempe-tahu bakal tak nampak di meja makan. Penjual gorengan dan kreasi kuliner lainnya akan kelimpungan.

Lantas, apa yang menyebabkan tempe dan tahu menjadi sulit didapatkan di pasar Indonesia? Energibangsa.id merangkum fakta tempe yang langka dicari di pasaran belakangan ini.

1.Kenaikan harga kedelai impor

Bersumber dari detikfood, Minggu (3/1/2021), para pengrajin tempe dan tahu mengeluhkan harga kedelai yang melonjak tajam. Perkilo kedelai mentah dibanderol dengan harga Rp9.200 hingga Rp10.000. Padahal harga normalnya hanya sekitar Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram.

Kenaikan harga secara dadakan ini membuat pengrajin tempe merasa keberatan. Kenaikan harga kedelai ini disinyalir terjadi sejak tanggal 29 Desember 2020. Hingga kini para pengrajin tempe dan tahu belum mendapat kejelasan dari penyebab naiknya harga kedelai.

Dilansir dari CNBC (3/1) Mu’alimin Ketua Sahabat Pengrajin Tempe Pekalongan Indonesia (SPTP I ) Jakarta Barat mengatakan kenaikan harga kedelai ini dinilai tidak wajar. Biasanya kenaikan harga kedelai berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Saat rupiah melemah, maka harga kedelai akan mengalami kenaikan. Yang ia pertanyakan, saat ini rupiah sedang tidak melemah, namun harga kedelai justru melonjak.

2.Mogok produksi

Tingginya harga kedelai membuat para pengrajin tempe di berbagai daerah melakukan aksi mogok produksi. Mereka memilih menghentikan produksi tempe dan tahu secara sementara dibandingkan mengambil resiko rugi.

Pengrajin tempe dan tahu dari Jakarta serta Jawa Barat sepakat melakukan aksi mogok produksi mulai tanggal 1-3 Januari 2021. Aksi mogok produksi ini tertuang dalam surat yang ditulis Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo) tertanggal 29 Desember 2020 kepada Pusat Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Puskopti).

3.Pengrajin kecewa pada pemerintah

Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu ini membuat para pengrajin kecewa pada pemerintah. Para pengrajin tempe dan tahu mengaku pemerintah kurang sigap dalam menindaklanjuti kenaikan harga kedelai impor.

Oleh karenanya, para pengrajin tempe dan tahu ini berencana bertemu dengan Menteri Perdagangan untuk membahas soal harga kedelai. Harapannya, harga kedelai bisa kembali normal seperti sediakala.

4.Monopoli China

Saat ini produksi kedelai terbesar berasal dari Amerika Serikat, Brazil dan Argentina. Pasar terbesar untuk kedelai ini adalah China. Kenaikan harga kedelai diduga karena China melakukan impor besar-besaran untuk produk kedelai asal Amerika Serikat.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia, Aip Syarifuddin mengatakan China baru saja melakukan pemesanan kedelai yang melonjak tajam dari 75 juta ton menjadi 92 juta ton. Hal ini yang disinyalir jadi penyebab menurunnya jumlah impor ke Indonesia.

Kenaikan angka impor kedelai ke China ini diduga karena mendekati waktu Imlek. Di China, para peternak babi melakukan stok besar-besaran untuk kedelai yang jadi pakan babi. Tujuannya adalah membuat babi menjadi gemuk dan siap jadi sajian istimewa saat Imlek tiba. (*)

Related Articles

Back to top button