fbpx
Gaya Hidup

Bukan Seperti Kapas, Ini Tekstur Awan Sebenarnya

ENERGIBANGSA.ID ̶  Pernah nggak sih kamu membayangkan suatu saat nanti bisa menyentuh awan seperti di film-film kartun?

Dalam kartun, awan digambarkan sebagai wujud seperti kapas yang bisa digenggam. Namun ternyata fakta mengatakan sebaliknya.

Awan adalah uap air yang terkumpul dengan kepadatan relatif rendah, sehingga kamu tidak bisa merasakan tekstur/bentuk awan, melainkan hanya bisa merasakan kedinginan/kelembapan. Jadi, jika kamu memegangnya, maka tangan anda akan tembus.

Saat tetesan awan naik di atmosfer, suhu udara berkurang. Tetesan awan kecil mulai membeku ketika suhu turun di bawah 32 derajat Fahrenheit (0 derajat Celcius).

Ini proses yang sama persis seperti membuat es batu dalam kulkas.

Tetesan beku menjadi kristal es dan terus membesar ukurannya ketika uap lain berubah menjadi es dan saling menempel.

Para ilmuwan menyebut proses gas yang berubah menjadi benda padat sebagai “deposition”.

Proses ini menciptakan kristal es bercabang yang indah, yang dapat kita temukan di salju. Arus naik udara yang stabil menjaga tetesan air yang sangat ringan atau kristal es mengambang di awan.

Jadi, bagaimana uap berubah menjadi hujan dan salju jatuh ke tanah?

Mudah, uap-uap menjadi satu. Tetesan yang lebih besar mengumpulkan tetesan yang lebih kecil dalam perjalanan ke tanah sebagai tetesan hujan.

Salju tumbuh dengan cara yang sama, dengan kristal saling menempel. Lengan kecil pada butiran salju dapat saling mengunci untuk membentuk kepingan salju yang lebih besar.

Ketika tetesan air bergabung dengan kristal es, hasilnya adalah hujan es. (ara/ EB)

Related Articles

Back to top button