fbpx
Essai

Broken Home Ajarkan Si Anak Lebih Mandiri!

Oleh: Dika Astrid Milani, Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

ENERGIBANGSA.ID—Berbicara tentang keluarga, maka hal yang bisa kita bayangkan adalah keluarga yang bahagia, berkumpul bersama, menghabiskan waktu dan bercengkrama. Serta, keluarga yang lengkap mulai dari ayah dan ibu, serta saudara yang harmonis.

Sayangnya diantara beberapa anak harus mengalami masalah keluarga. Seperti kondisi disharmonisasi, dan jauh dari hal yang dibayangkan. Rasa gembira, nyaman bahkan manja, sulit untuk diraihnya.

Broken home

Dalam pembahasan mengenai kehidupan berumah tangga, kita sering mendengarkan istilah tentang ‘broken home’. Lahir dalam keluarga yang tidak utuh bukan menjadi keinginan semua orang, dan menjadi broken home bukanlah menjadi sebuah pilihan. Namun hal menjadi kehendak dari Yang Kuasa.

Broken home adalah keluarga yang hancur yang disebabkan oleh faktor 4P + K yaitu perceraian, perselingkuhan, pelecehan, penelantaran, dan kematian. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat penopang bagi anak, justru harus broken home.

Hal itu menjadi sebuah racun yang merusak kesehatan mental, dan luka batin mndalam yang akan terus membayangi psikologi anak hingga usia dewasa. Namun seburuk apapun kejadian, pasti akan membawa hikmah atau pelajaran perjalanan hidup bagi dirinya.

Introvert tapi lebih mandiri

Kebanyakan dari anak broken home menjadi introvert. Yakniistilah psikologi yang diberikan kepada orang yang diberi stigma punya kepribadian pendiam dan penyendiri. Sebaliknya, sifat ekstrovert lebih pada pribadi yang suka berteman, bersifat pemimpin, suka keramaian dan nyaman menjadi sorotan.

Rata-rata anak broken home jarang untuk membuka diri dengan orang-orang sekitarnya, sehingga menjadi lebih tertutup. Kurangnya figur penting dalam hidupnya, membuat anak broken home lebih tahu apa yang harus diperbaiki. Mereka pun belajar untuk hidup mandiri yang berdampak positif.

Sebagian besar anak yang mempunyai kehidupan yang berkecukupan dan keluarga lengkap mereka selalu bergantung kepada orang tua karena selalu dimanja. Namun di dunia ini pasti ada satu titik dimana kita sadar bahwa tidak ada yang diandalkan kecuali diri sendiri.

Seseorang yang ditekan dalam hidupnya terkadang justru menjadikannya sebagai sosok yang hebat dan bersemangat untuk mengubah nasib. Pada kasus perceraian orang tua, misalnya. Anak broken home justru seringkali menyalahkan dirinya sendiri. Ia berpikir bahwa dialah yang menjadi penyebab perceraian kedua orang tuanya.

Padahal kenyataannya faktor tersebut tidak 100 persen benar. Bisa jadi perceraian tersebut terjadi karena faktor lain misal ekonomi, orang ketiga dalam hubungan ibu atau bapak, dan alasan lainnnya.

Pada intinya anak broken home sangat berat menerima kenyataan. Namun percayalah, bahwa semua ini adalah proses yang akan menjadikan manusia seutuhnya. Sebagian besar masyarakat menilai bahwa anak broken home itu buruk atau dianggap sebagai anak yang nakal, bandel, tidak penurut dan tidak pintar.

Seakan-akan penilaian masyarakat tersebut menjadi suatu hal yang maklum. Padahal tak semua anak broken home seperti itu. Diantara mereka, bahkan ada hal istimewa yang dimilikinya serta belum tentu dimiliki oleh anak yang mempunyai orang tua lengkap, yaitu soal kemandirian.

Dalam pengamatan saya, anak broken homecenderung lebih mandiri untuk melakukan semuanya. Pengalaman hidup yang keras membentuknya menjadi lebih cepat dewasa dan mampu melakukan semua sendiri tanpa bantuan orang lain.

Bukan hanya tindakan, anak broken home juga terbiasa berpikir kreatif untuk bisa berhasil dalam pendidikan, pekerjaan dan karirnya. Tidak heran, anak broken home ketika dewasa banyak yang lebih sukses. Patut diacungi jempol buat mereka karena mereka selalu berusaha bisa mengubah suatu hal yang menurutnya hancur bisa tumbuh indah lagi. Mereka berusaha mencari jati diri yang sesungguhnya, walaupun tanpa ada orang terpenting dalam hidupnya yang mendukungnya.

Ada beberapa dari anak broken home yang ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa ‘pelabelan’ masyarakat mengenai anak broken home yang menurutnya nakal, bandel, tidak pintar dan sebagainya tersebut adalah tidak benar.

Mereka berupaya untuk membuktikan bahwa mereka itu hebat. Kurangnya kasih sayang dari orang tua bukan menjadi penghalang bagi anak broken home untuk tidak bisa merubah hidup menjadi indah. Mereka juga memiliki sifat yang tangguh. Walaupun begitu, di hatinya yang paling dalam, mereka sangat merindukan kasih sayang dari orang tuanya.

Hal ini tidak akan ditunjukkannya di depan banyak orang. Mereka selau pintar menyembunyikan kesedihan di depan orang dan selalu memendamnya untuk diri sendiri. Ketika saja ia sedang sendirian atau sedang melamun, ia akan mulai memikirkan orang tuanya. Ia ingat bagaimana masa kecil yang bahagia, ketika orang tuanya menggendongnya, dan lain sebagainya.

Semua orang pasti senang ketika memiliki orang tua yang selalu memberikannya kasih sayang. Berkaca dari orang tuanya, mereka tidak ingin memiliki kehidupan yang hancur  seperti ini. Walaupun dalam hatinya masih membekas luka yang ditimbulkan oleh orang tuanya. Mereka tidak ingin memiliki kehidupan yang sama. Mimpi mereka adalah memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari orang tuanya.

Pekerja keras

Anak broken home juga mempunyai jiwa pejuang dan pekerja keras. Di tengah orangtua yang berpisah, sifat itu telah terbentuk sejak mereka kecil. Ia memiliki keinginan untuk membuktikan jika tetap bisa sukses meskipun keluarganya mengalami masalah. Hal ini membuatnya semakin terpacu untuk meraih sukses setinggi-tingginya tanpa kenal lelah. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri, masyarakat dan juga pada dunia, bahwa ia berhasil move on dan bisa melanjutkan ‘kehidupan’ barunya. Semangat inilah yang kerap mengantarkannya pada kesuksesan.

So, jangan pernah sepelekan anak korban broken home yang selama ini sering kamu pandang sebelah mata. Be good and stay positive! (*)

Related Articles

Back to top button