fbpx
Kisah Misteri

Bertemu Hantu di Kota Tua

ENERGIBANGSA.ID – Peristiwa ini dialami oleh seorang bernama Chika (bukan nama asli) pada 3 minggu lalu.

Tepat pada hari Minggu, Chika dan temannya merencanakan berkunjung ke Kota Tua Jakarta.

Mereka berangkat menggunakan kereta. Hari mulai siang, panas terik tidak menyurutkan wisatawan yang ingin menikmati Kota Tua.

Chika dan temannya mendatangi taman Fatahillah, luar biasa! Seperti berada di luar negeri.

Meski begitu, keramaian ini pun tak menyurutkan “mereka” untuk menampakan diri.

Entah mengapa, mata ini selalu tertuju pada salah satu restoran ayam cepat saji yang terkernal itu.

Bangunannya cukup unik. Bagian bawah gedung digunakan untuk restoran, sedangkan di bagian atas kosong.

Bagian jendela di lantai atas tidak ada kacanya dan tidak ada daun jendela. Entah mengapa, seperti ada orang sedang berdiri di sana memperhatikan keramaian.

Pandangannya kosong tetapi terasa marah. Cepat-cepat Chika mengalihkan mataku.

Panasnya Jakarta membuat Chika dan temannya memutuskan memasuki museum sejarah Jakarta.

Ada hal unik yang kembali membuat Chika sangat penasaran, yakni penjara bawah tanah.

Sayangnya, teman Chika tidak ingin ikut ke ruang penjara itu. Tapi entah mengapa Chika tetap ingin menuju ke sana.

Aneh, padahal pengunjung terlihat ramai, tetapi saat ini yang dirasakan Chika suasana yang sepi dan mencekam.

Pertama Chika menuju ruang tahanan yg berada di sisi sebelah kiri. Sedih, gelap, pengap dan langit-langitnya begitu rendah.

Di dalam ruangan penjara itu terdapat bulatan besi untuk borgol kaki. Dan Chika melihat, di sisi kiri penjara ada orang yang sedang duduk.

Bertemu Hantu di Kota Tua

Chika pikir pengunjung, tapi kenapa baju celana yang digunakan seperti petani. Badannya pun terbilang kurus, namun masih terlihat seperti umur 20 tahunan.

Firasat Chika mengatakan, “Ayo Chik, cepat keluar! He’s not Human!”

Dengan tergesa-gesa Chika keluar dari ruangan penjara bawah tanah itu.

 Saat tiba di depan pintu penjara, Chika mendengar suara laki-laki itu bicara “Apa salah saya sampai saya dibawa ke sini”!

Tak tahu mengapa, kaki ini seperti ada yang mendorong untuk masuk ke dalam ruang penjaralagi.

Benar saja, laki-laki itu masih duduk di situ dan dia langsung menatapku kembali. Dia bilang, “Apa salah saya!”

Terlihat raut wajah sedih tapi juga marah yang mendendam. Karena terlalu takut, Chika lari kembali keluar.

Dan yang aneh saat Chika sampai diluar, kaki kirinya terasa berat. Untuk jalanpun harus Chika terseret-seret, dan terdengar bunyi rantai yang terseret.

“Ya Allah, tolong saya,” dalam hati.

Semakin coba melangkah kaki itu semakin sakit dan berat juga terdengar suara rantai. Dengan terseret-seret aku segera menuju sekuriti yang sedang bertugas.

“Pak, tolong bantu saya,”

Sekuriti itu pun kebingungan.

“Ada apa Pak. Ada yang bisa saya bantu?”

Lalu aku jawab,”Saya dari penjara bawah tanah Pak, kaki saya ada yang merantai”

Sekuriti itu pun langsung paham dan menghubungi temannnya. Chika pun dipapah menjauh dari penjara. Dan teman sekuriti yang tadi pun mengangkat kaki kirinyasambil membaca doa.

Entah kenapa ada rasa sedih yang ga bisa diucap dan Chika spontan menangis.

Tapi tiba-tiba Chika seperti kembali ke masa lalu. Ada seorang anak muda dibawa oleh pasukan Belanda dan dijebloskan ke dalam penjara.

Bukan hanya dia. Ada beberapa orang juga di sana. Penuh dan sesak. Pemuda itu meninggal dan tidak dimakamkan dengan selayaknya.

Tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya.

Ternyata bapak sekuriti. Saat aku lihat sekeliling, semua sudah hilang. Kakiku mulai terasa ringan. Aku ucapkan terima kasih pada sekuriti yang sudah membantuku.

Chika menarik kesimpulan, bahwa pesan yang ingin beliau sampaikan adalah menuntut keadilan dan ingin dikebumikan dengan layak.

Memang, di balik keindahan bangunan peninggalan zaman dahulu tersimpan kisah kelam di baliknya.

Related Articles

Back to top button