Kabar Indonesia

Berkolaborasi, Muhammadiyah dan NU Bikin Film

ENERGIBANGSA.ID – Dua Organisasi Islam Masyarakat terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) saling berkaloborasi dalam pembuatan film berjudul Jejak Langkah Dua Ulama.

Film ini diproduksi oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Tebu ireng.

(kiri ke kanan) Sutradara Film Jejak Langkah 2 Ulma Sigit Ariansyah, Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng KH Solahuddin Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah Sukriyanto AR di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu 24 Juli 2019. (dok TEMPO | Pito Agustin Rudiana)

Adalah Sigit Ariansyah yang menjadi sutradara dengan dua produser dari LSBO Muhammadiyah, Andika Prabhangkara, dan Abdullah Aminuddin Azis dari Pondok Pesantren Tebu Ireng.

Film Jejak Langkah Dua Ulama akan bercerita tentang keteladanan dan perjalanan Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari, dua tokoh umat islam nasional yang merupakan pendiri Muhammadiyah dan NU, yang memberikan pembaruan dakwah islam secara damai, toleran dan santun.

Kedua tokoh tersebut hidup di zaman yang sama, hanya berselisih 4 sampai 5 tahun dan memiliki konsentrasi di bidang pendidikan.

Ahmad Dahlan dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah pada 1912 yang sebelumnya mendirikan Madrasah Diniyah Al Islamiah tahun 1911 yang dikenal sebagai sekolah awal muhammadiyah.

Sementara Hasyim Asy`ari mendirikan NU pada 1926 dan sebelumnya telah mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng di tahun 1899.

“Kedua tokoh ini menjadi role model generasi baru tentang Islam karena mengenalkan Islam yang memberi pembahuruan dan kemajuan,” terang Haedar Nasir selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah saat launching kerjasama pembutan film tersebut di ruang pertemuan Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (24/7), seperti dinukil energibangsa.id dari tempo.co

Sayangnya, ia kembali menerangkan, tak menutup kemungkinan generasi saat ini taka da yang peduli dengan sejarah.

Meskipun Ahmad Dahlan adalah tokoh Muhammadiyah, Haedar meyakini sebagian besar kader Muhammadiyah tak tahu dimana ulama besar tersebut dimakamkan.

Sedangkan, menurut dirinya, generasi di luar Muhammadiyah dan NU, hanya menempatkan keduanya, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asyari, sebagai tokoh primordial ormas tersebut.

“Mereka lupa bahwa keduanya adalah tokoh umat dan bangsa, lintas dunia islam untuk menyampaikan simbolisasi Islam yang Rahmatan lil alaamiin,” tutur Haedar.

Dirinya menambahkan, “Perlu belajar tokoh-tokoh masa lalu untuk proyeksi bangsa hari ini dan kedepan. Film ini menjadi jembatan bagi generasi baru tentang sejarah,”.

Penandatangan nota kerjasama pembuatan film Jejak Langkah Dua Ulama antara Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng KH Solahuddin Wahid (dua dari kiri) dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah Sukriyanto AR (tiga dari kiri) disaksikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir (paling kanan) di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu, 24 Juli 2019. (dok TEMPO | Pito Agustin Rudiana )

Film Jejak Langkah Dua Ulama akan diputar pada bulan September hingga Oktober 2019. Akan tetapi sangat disayangkan LSBO PP Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Tebu Ireng sepakat tidak memutarnya di bioskop-bioskop Tanah air.

Dari informasi yang dihimpun energibangsa.id, hal ini dikarenakan dibutuhkan biaya yang cukup besar agar film Jejak Langkah Dua Ulama bisa diputar di bioskop-bioskop Nasional.

Selain itu, LSBO masing-masing Ormas juga memikirkan agar film ini dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat terutama sekolah dan pondok pesantren yang letaknya terpencil atau sulit mengakses bioskop di kota/kabupaten.

Tim produksi film Jejak Langkah Dua Ulama akan mendatangi secara langsung sekolah, pondok pesantren dan universitas di daerah-daerah.

“ Kami dari Gunungkidul mau nonton ke bioskop di Yogyakarta, pasti mikir waktu dan biaya. Maka kami yang datang ke sana, mendekati penonton,” ujar Ketua LSBO, Sukriyanto AR.

Dia mengemukakan bahwa pihaknya ingin mengedukasi penonton yang berada di daerah pinggiran, mengingat yang menonton film tak hanya masyarakat perkotaan melainkan juga pedesaan.

Meskipun menggunakan metode jemput bola, konsep yang dtawarkan dan diterapkan untuk menonton film Jejak Langkah Dua Ulama akan berbeda.

Sukriyanto menuturkan metode menontonnya nanti bukan seperti layar tancap, tetapi diperbarui menjadi pop up cinema. Perangkat audiovisualnya juga disempurnakan sehingga menghasilkan suara dan gambar yang tajam dan bagus.

Penonton Film Jejak Langkah Dua Ulama juga nantinya akan ditarik biaya tiket meski tidak semahal harga tiket di bioskop. “ Gratis itu tidak mendidik, tetap bayar meski gotong royong Rp 15 ribu. Kalau bioskop kan Rp 35 ribu,” ungkap Sukriyanto.

KH Shalahuddin Wahid, selaku Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng, turut menyambut baik pembuatan film tersebut. Menurutnya memang perlu dibuat film tentang kedua tokoh tersebut, sebab Ahmad Dahlan dan Hasyim Asyari hidup diantara empat tokoh raksasa umat Islam.

Related Articles

Back to top button