fbpx
Essai

Berkah Sempak ‘Kiai’

Oleh M. Abdullah Badri, Aktivis Cyber Media Aswaja, alumni TBS Kudus

ENERGIBANGSA.ID—Lama sekali Malik tidak hadir dalam acara pertemuan alumni. Padahal, saat mondok, Malik tergolong abdi ndalem kiai yang sangat percaya bahwa berkah itu ada dan nyata.

Sejak menjadi importir mebel, tenun dan rotan di Jepara, ia sukses sebagai pengusaha santri yang dikenal dermawan, sadar zakat, rajin wakaf dan infaq.

Tapi, di kalangan alumni pesantrennya, ia dikenal sebagai santri yang lupa kampung halaman ilmunya.

Kawan alumni sungkan bermain ke rumahnya. Lha wong acara haul pendiri pesantren dan reuni alumni saja blas tidak pernah datang kok. Allah punya rencana lain untuk Malik sekeluarga.

Istri dan dua anaknya jatuh sakit. Hartanya habis untuk berobat. Malik bangkrut.

Saat inilah salah satu sahabatnya bernama Harir datang silaturrahim ke rumahnya.

“Dulu saat kamu jaya, aku sungkan dolan Lik. Kini, setelah kamu bangkrut, aku kasihan. Saya ke sini mengingatkanmu. Barangkali mau,” kata Harir.

“Piye-piye. Apa saranmu?”

“Kamu dulu paling percaya berkah kiai. Kamu dulu khadim utama ndalem kiai. Tapi kamu tak pernah sama sekali sowan ke beliau selama 10 tahun terakhir”.

“Maaf. Semua itu salahku. Aku sibuk urus bisnis, ngaji pun tak pernah lagi, walau aku rajin sedekah dan tetap berzakat,” tandas Malik.

“Cobalah kamu sowan kiai”.

“Malu aku, Rir”.

“Kamu masih punya uang untuk menyambut hangat kiai ke rumah?”

“Masih ada walau tidak seberapa”.

“Besok aku coba kontak Kang Hadi, ketua alumni, untuk datang ke rumahmu bersama kiai. Siapkan jamuan banyak. Minimal 30 orang. Kiai akan datang bersama angkatan kita, mendoakan keluarga, dan mintalah beliau mencicipi semua makanan saji walau sedikit”.

“Ambil makanan itu untuk keluarga. Tapi jangan lupa buat teman-teman seangkatan kita yang lama tidak bertemu denganmu”.

Pada hari yang telah ditentukan, kiai dan rombongan seangkatan benar-benar datang.

Mereka saling temu, kangen-kangennan laiknya saat mereka masih sama-sama menjadi santri.

Setelah tahlil dan doa, semua jamuan dinikmati bersama.

Walau sedikit, kiai mencicipi 20an menu makanan dari Malik sekeluarga yang disajikan ala  prasmanan.

Uang sisa Malik habis untuk manjamu santri alumni dan kiai.

Karena banyaknya makanan yang diambil sedikit dan rata, perut kiai mengalami sakit. Malik mengantarkan kiai ke toilet.

Sayangnya, setelah itu, kiai buru-buru pamit. Rombongan pun ikut pamit.

Setelah pulang, tak ada sisa makanan pun yang tersisa.

Ternyata, para santri membawa semua makanan di acara itu. Mereka membawa semuanya, tanpa sepengatahuan Malik dan keluarga.

“Masak Kang Malik saja yang dapat berkah kiai. Kita juga tidak mau ketinggalan lah. Ayo kang, ambil semua makanan yang telah dicicipi kiai,” kata Mudi, sopir kiai.

Kalimat itu sempat didengar oleh istri Malik dari balik dapurnya.

Tapi ia tak mampu mencegah sahabat suaminya itu karena mereka sangat yakin bahwa makanan sisa kiai adalah berkah bagi mereka.

“Apa yang tersisa, Bu?”

“Entahlah. Semua temanmu rakus kalau ada berkah,” jawab ketus istri.

Malik ke toilet. Ia mendapati ada sempak kiai tertinggal.

“Bu. Ada sempak kiai di WC. Aku yakin ini berkah,” ujarnya, gembira. Hanya itu satu-satunya bekas kiai usai acara.

Dengan keyakinan dahsyat, sempak dilipat, dicelupkan ke segelas air, lalu diminumkan ke anak perempuan Malik yang lumpuh. MasyaAllah. Seketika, tubuhnya bergerak. Padahal, dalam tiga tahun terakhir, ia di atas kursi roda dan tempat tidur.

“Terimakasih ya Allah. Sempak kiai engkau ijinkan jadi wasilah kesembuhan anak kami,” ungkap Malik sambil terisak tak menyangka.

Istri Malik yang menderita asma turut yakin berkah sempak kiai. Sambil menutup hidung karena khawatir muntah (haha), ia minum pula air perasan sempak keramat itu.

Walau sedikit ‘mluko’, air berhasil diminum. Tapi tidak terjadi keajaiban apapun. Barangkali, istri Malik kurang yakin.

Tak lama, ada orang mengetuk pintu dengan salam.

“Wah. Jangan-jangan itu kiai, Bu,” wajah Malik pucat pasi bila kiai tahu sempaknya dibuat yang tidak-tidak. Haha.

Betul nian. Kiai datang bersama sopir Mudi, tanpa rombongan tentunya.

“Ada yang ketinggalan di toilet kang Malik”.

“Njih kiai. Tapi sudah basah”.

“Apanya yang basah?”

“Celana dalam”.

“Yang ketinggalan bukan itu. Tapi kacamata”.

“Lalu, ini milik siapa kiai?” Malik menunjukkan sempak basah.

“Milik saya kang,” kata Mudi, lalu pergi.

Kiai dan Mudi tidak tahu apa yang telah terjadi. Selamat buat sopir kiai se-Nusantara. Anda penuh berkah. Hahaha. (*)

Related Articles

Back to top button