Religius

Beribadah dan Belajar Sejarah di Gereja Merah Probolinggo

ENERGIBANGSA.ID – Terletak di Provinsi Jawa Timur, Probolinggo merupakan kota terbesar keempat setelah Surabaya, Malang, dan Kediri. Selain Museum Probolinggo dan BeeJay Bakau Resort, sepertinya banyak masyarakat dari luar Probolinggo yang belum mengetahui adanya warisan budaya, sejarah, sekaligus tempat ibadah di sini.

Apabila Sobat Energi belum tahu, dengan antusias Tim Energi Bangsa mengajak kalian untuk melihat dan berkunjung ke Gereja Merah!

Ya, gereja bernama GPIB Jemaat Immanuel ini memiliki corak warna merah yang mencolok sehingga mendapat julukan Gereja Merah.

Gereja yang menjadi landmark Kota Probolinggo tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini semenjak dibangun pada tahun 1862. Menggunakan material bangunan dari Jerman, tempat ibadah umat kristiani ini memakai konstruksi knock down atau bongkar pasang.

Rangka atap Gereja Merah masih kokoh hingga saat ini (Foto: Jatimnet)

“Dulu, konstruksi bangunan gereja ini sengaja dipesan dari Jerman oleh negara Belanda, dengan biaya sekitar 15 ribu gulden. Dan gereja ini hanya ada dua di dunia, satu di Den Haag, Belanda dan satunya ya di sini,” terang Ripka Atalaka, salah satu pendeta Gereja Merah.

Ketika memasuki gereja, akan terdapat tangga dengan tulisan berbahasa Belanda “Gebouwd Anno 182” yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti “Dibangun Tahun 1862”.

Dirancang dengan gaya arsitektur gotik, hampir seluruh bangunan gereja ini tersusun atas rangka besi dan seng. Hanya beberapa sudut saja yang terlihat menggunakan pelapis dinding seperti kayu.

Tampak bagian dalam Gereja Merah (Foto: Jatimnet)

Terletak di Jalan Suroyo 32, Probolinggo, Gereja Merah kini tak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah namun juga ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Probolinggo. Diketahui setiap musim liburan tiba, banyak wisatawan yang mengunjungi gereja ini dan mengagumi keindahan arsitekturnya.

“Bagus, bentuknya unik, apalagi cuman ada dua di dunia katanya. Jadi mesti perlu dilestarikan bangunan dan terus dijaga,” cerita Lutfiana, sebagaimana dikutip dari Jatimnet.

Selain itu, gereja ini juga menyimpan beberapa benda peninggalan sejarah yang masih difungsikan hingga sekarang. Diantaranya seperti alat-alat Perjamuan Kudus, cawan, dan seloki yang dibuat tahun 1868. Terdapat pula alkitab berbahasa Belanda kuno yang ditulis tahun 1818 hingga 1819.

Tertarik berlibur ke Probolinggo pada akhir pekan nanti? Gereja Merah patut masuk ke dalam daftar kunjunganmu.

Related Articles

Back to top button