fbpx
Nasional

Benarkah BIN Punya Pasukan Bersenjata? Simak Sini

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Pasca Ketua MPR Bambang Soesatyo mengunggah video Inaugurasi Peningkatan Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), Rabu lalu (9/9). Muncul polemik bahwa Badan Intelijen Negara (BIN) memiliki pasukan bersenjata tersendiri.

Dalam video yang diunggah Bambang Soesatyo di Instagram pribadinya, tampak pasukan dengan seragam khusus dan bersenjata laras panjang. Mereka disebut sebagai pasukan khusus Rajawali

Keberadaan pasukan khusus di BIN menjadi polemik, sebab tidak ada Undang-undang yang mengatur bahwa BIN dapat membentuk pasukan khusus bersenjata.

Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto menjelaskan pasukan khusus rajawali merupakan kode sandi dari Pendidikan Intelijen Khusus (Dikintelsus) yang menjadi rangkaian acara dalam Inagurasi Statuta Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) dan Peresmian Patung Bung Karno Inisiator STIN.

Baca Juga : Kronologi Syekh Ali Jaber Ditusuk Saat Ceramah di Lampung

Wawan menyebutkan penutupan Dikintelsus selalu diisi dengan atraksi keterampilan. Baik bela diri, IT, bahan peledak, atau keterampilan senjata, serta simulasi penumpasan ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) lainnya.

“Ini bukan pasukan (unit) tersendiri namun Kepelatihan Intelijen Khusus yang diberikan kepada personel BIN yang bertugas di lapangan (bersama TNI, Polri), agar memahami tentang tugas dan dinamika di lapangan, antara lain Intelijen Tempur, Taktik dan Teknik Intelijen di medan hutan/perkotaan dll, serta peningkatan kapabilitas SDM,” ungkap Wawan dalam keterangan resminya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/9).

Ia berujar pelatihan tersebut dilaksanakan antara lain berdasarkan evaluasi terhadap hasil Operasi Satgas di wilayah konflik, di mana personel BIN di Papua ada yang telah gugur dan terluka.

Pendidikan ini, kata Wawan, ditujukan untuk mengasah kemampuan dalam mengatasi tugas khusus yang berat dan medan sulit. Setelah selesai pendidikan, terang Wawan, mereka diterjunkan untuk tugas klandestin di berbagai sasaran yang menjadi titik ATHG. Baik seorang diri ataupun bekerja dengan tim kecil (Satgas).

“Dikintelsus ini bukan dibentuk menjadi sebuah pasukan tetapi akan terjun secara personal/mandiri di wilayah tugas. Jadi, ini bukan pasukan tempur, meskipun latihannya adalah latihan para komando,” tuturnya.

Ia menerangkan bahwa diklat seperti itu biasa dilakukan BIN dengan tujuan menciptakan insan intelijen yang tangguh guna melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, serta menjaga keselamatan rakyat Indonesia.

Setelah selesai pendidikan, kata dia, mereka akan kembali ke unit tugas masing-masing sesuai tugas pokok dan fungsinya.

“Jadi, tidak ada pasukan di BIN. Penamaan Pasukan Khusus Rajawali adalah kode sandi pendidikan yang selalu berubah kodenya di setiap jenis pendidikan,” tandasnya.

Hal serupa ditegaskan Bambang Soesatyo bahwa BIN tak memiliki pasukan khusus.

“Tidak ada pasukan khusus BIN seperti yang diributkan. Video yang saya unggah di akun Instagram saya itu adalah demonstrasi para taruna-taruni Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN),” kata politikus yang akrab disapa Bamsoet ini, dalam keterangan resminya, Selasa (15/9).

Taruna-taruni STIN itu, kata dia, baru saja selesai dalam menempuh pendidikan. Mereka lantas melakukan demonstrasi pelbagai kemahiran dan keahlian khususnya selama mengikuti pendidikan.

Karena itu, para taruna-taruni itu menamakan dirinya Pasukan Khusus Rajawali. Nama Rajawali itu, kata dia, hanya ada di dalam acara seremoni Inaugurasi Peningkatan Statuta STIN dan Peresmian Patung Bung Karno di STIN tersebut.

“Saya mendukung penuh prestasi para taruna-taruni STIN seperti yang dipertunjukkan mereka secara luar biasa di hadapan saya dan para undangan Khusus lainnya sebagai bentuk prestasi pencapaian puncak pendidikan mereka selama di STIN,” kata Bamsoet.

Bamsoet mengakui taruna-taruni STIN dibekali berbagai kemahiran menggunakan berbagai jenis senjata laras pendek dan laras panjang. Tak hanya itu, mereka juga dibekali kemahiran menjinakan bom, membebaskan sandera, terjun dari atas gedung memakai tali, memperagakan kemahiran bela diri tangan kosong dan lainnya.

Ia menyatakan taruna-taruni lulusan STIN itu bisa sewaktu-waktu dipergunakan di dalam operasi khusus oleh Kementerian Pertahanan RI dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sesuai dengan amanat undang-undang.

“Demo ketangkasan yang ditunjukan para taruna-tarini STIN kemarin sangat membanggakan. Dan itu menunjukan SDM intelijen kita tidak kalah dengan kehebatan 10 intelijen terbaik dunia seperti CIA (Amerika) M16 (Inggris), GRU (Rusia), DGSE (Prancis), ISI (Pakistan), BND (Jerman), Mossad (Israel), R&AW (India), ASIS (Australia), CSIS (Kanada) dan badan intelijen dunia lainnya,” kata Bamsoet.

Sebelumnya, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menyebut BIN tak seharusnya memiliki pasukan khusus. Apabila pasukan khusus Rajawali itu memang ada, BIN telah melampaui kewenangannya berdasarkan undang-undang.

Pengamat militer Institute For Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi juga menyebut pembentukan pasukan bersenjata oleh BIN bak mempersenjatai angkatan kelima. Pasalnya, hanya TNI dan Polri yang diizinkan membentuk pasukan bersenjata. (Sasa/EB/CNNIndonesia).

Related Articles

Back to top button