Opini / Gagasan

Belajar Kembali Sejarah Nabi

oleh : Ahmad Saefuddin *

ENERGIBANGSA.ID – Apa yang disampaikan Gus Muwaffiq (waktu saya kuliah di Yogya tahun 2013, sahabat-sahabat PMII Yogya lebih sering memanggil beliau dengan sebutan Cak Afiq) dalam ceramahnya, tidak lain merupakan mandat seorang Kiai NU yang dituntut untuk bisa menghadirkan sosok Nabi Muhammad SAW ke publik dengan bahasa yang sederhana.

Substansi dakwahnya tak ada yang salah. Hanya saja, ada sekelompok orang yang sedari awal ingin menghancurkan popularitas Kiai Jaduk yang lagi naik daun itu. Yah! Mereka yang hobinya mereproduksi wacana menggunakan langgam tendensius dan menghakimi.

Sulit memungkiri, kajian tentang sejarah Nabi Muhammad Saw. sering dibumbui mitologi dan legenda. Nabi Muhammad mesti ditampilkan sebagai sosok sempurna. Sayangnya, kesempurnaan tersebut kadangkala menafikan sisi kemanusiaan Sang Nabi. Sehingga, aspek historisitas kehidupan Rasulullah Saw. di mata generasi muslim milenial menjadi terkaburkan.

Barangkali, seperti ungkapan Lesley Hazleton; Penulis Buku “Muslim Pertama: Kisah Muhammad”, inilah alasan mengapa bisa begitu sulit untuk melihat siapa sosok Muhammad sesungguhnya.

Nalar seorang muslim terlanjur dicekoki alur sejarah yang menempatkan figur Muhammad sebagai manusia ideal. Akibatnya, otak kita secara otomatis berontak, tak dapat menoleransi sedikitpun ketidaksempurnaan manusiawi yang ada pada diri Nabi Saw.

Hazleton mengingatkan, “mengidealkan seseorang, dalam arti tertentu, juga berarti menghilangkan kemanusiaannya; karena itu meski jutaan, jika bukan miliaran, kata yang ditulis tentang Muhammad, bisa jadi sulit untuk mendapatkan kesan sebenarnya mengenai sosok sang manusia itu sendiri.”

Lebih lanjut ia mengatakan, “meski legenda-legenda pengagungan mengenai dirinya sering kali luar biasa, mereka berfungsi seperti semua legenda lainnya: mengaburkan lebih banyak hal ketimbang yang mereka singkapkan, dan Muhammad menjadi lebih merupakan sebuah simbol ketimbang sesosok manusia.”

Kasus Cak Afiq menuai hikmah bagi kita untuk kembali menghayati syair qasidah, “Muhammadun basyarun lâ kalbasyari. Bal huwa kal yâqûti bainal hajari.” Terima kasih, Cak! Engkau mengajarkan kami tentang pentingnya belajar sejarah kenabian.

*Ahmad Saefuddin, Kader PMII, Staf Pengajar di FTIK UNISNU Jepara

Related Articles

Back to top button