fbpx
Kisah Misteri

Beginilah Kisah Misteri Hantu Wewe Gombel di Semarang

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Sosok hantu yang populer di Indonesia selain kuntilanak, yakni Wewe Gombel. Hantu tersebut merupakan jelmaan hantu perempuan yang dikisahkan datang untuk membalas dendam dan mencari anak yang hilang.

Ilustrasi hantu Wewe Gombel (sumber: istimewa)

Banyak orang yang beranggapan bahwa Wewe Gombel berasal dari Gunung Gombel. Masyarakat mempercayai bahwa Siluman Wewe yang satu ini kerap kali menculik anak kecil atau balita.

Konon, hantu Wewe Gombel bermula dari sebuah bukit di Semarang; bernama Gombel. Kawasan ini sangat terkenal. Lokasinya tak jauh dari Pasar Jatingaleh atau fly over Jatingaleh di kawasan Gombel Lama.

Bukit itulah populer dengan nama Gombel; berdiri sebuah bangunan besar yang sekarang kosong. Bangunan itu adalah bekas Hotel Sky Garden.

Begitu rimbunnya pepohonan, bangunan itu bahkan tak bisa dilihat. Untuk menuju ke bangunan itu, kita bisa melewati sebuah gapura berbentuk Candi. Hingga menemukan palang besi sebagai akses masuk.

Hotel Sky Garden dibangun pada 1970-an dan sempat jaya pada era 1980-an kemudian ditutup pada akhir 1982 karena terjadi sengketa antara pemilik dengan bank.

Konon, hotel itu memiliki luas lahan sekitar 12 hektare. Hotel ini memiliki 24 kamar, bar, meeting room, kolam renang, tempat parkir dan 20-an kamar yang berdiri terpisah di dekat kolam renang.

Awalnya, penginapan itu merupakan hotel yang mengusung konsep sebagai hotel taman. Hingga kini masih terasa sisa-sisa suasananya. Misalnya dari teras kamar, pemandangan langsung tertuju ke Kota Semarang bawah.

Tanaman penisium yang dulu hanya diletakkan dalam sebuah pot pun kini sudah menjadi besar. Pohon munggur di depan pintu gerbang pun ukurannya juga cukup besar.

Misteri Wewe Gombel

Tapi benarkah tempat ini menjadi markas hantu legendaris bernama Wewe Gombel?

Dalam buku 666 Misteri Paling Heboh: Indonesia & Dunia yang ditulis Tim Pustaka Horor, diceritakan bahwa Wewe Gombel atau di tempat lain disebut Kolong Wewe, merupakan jelmaan seorang wanita yang rohnya gentayangan.

Itu disebabkan karena ia mati bunuh diri di sebuah pohon, di kawasan Bukit Gombel. Sebelum bunuh diri, perempuan itu memergoki suaminya sedang meniduri perempuan lain. Karena marah, sang suami itupun dibunuh.

Warga Gombel mengetahui hal itu, maka wanita itu dikejar-kejar agar bertanggung jawab. Tak kuasa bertahan dan menjaga harga dirinya sebagai istri, perempuan itupun akhirnya bunuh diri.

Sementara itu penyebab selingkuhnya sang suami, karena perempuan itu tak mampu memberikan keturunan. Selain ditinggal selingkuh, perempuan itu juga diasingkan sampai menjadi gila. Ia menjadi olok-olok warga juga.

Mitos yang hidup di masyarakat, perwujudan Wewe Gombel adalah perempuan yang bisa berubah wujud menjadi siapa saja, dengan ukuran payudara yang panjang dan luar biasa besarnya. Ia jahil karena sering menculik anak-anak kecil dan menyembunyikannya.

Menurut ceritanya, si anak yang diculik akan diberi makan kotoran manusia yang terlihat seperti makanan lezat yang paling ia sukai.

Tujuannya memberikan kotoran manusia tersebut adalah membuat anak menjadi bisu dan tidak bisa bercerita tentang apa yang telah ia alami itu.

Untuk dapat menemukan anak yang diculik Wewe Gombel, keluarga harus berkeliling dan membunyikan bunyi-bunyian dari peralatan dapur.

Bunyi itu sebagai musik mengiringi nyanyian dengan syair statis namun ritmis “blek-blek ting, blek-blek ting”. Nyanyian itu menjadi sebuah mantera mengelilingi kampung. Nantinya sang anak akan muncul dengan sendirinya.

Lalu benarkah Gombel ini sebagai markas sang hantu legendaris? Tak satupun yang bersedia menceritakan pengalaman mistisnya.

Namun, mitos Wewe Gombel itu persebarannya sangat luas. Bukan hanya ngetop di Semarang, namun juga sampai wilayah Wonogiri, Sragen, Klaten, Yogyakarta, Purworejo, dan beberapa kota Pantura di Jawa Tengah.

Wewe Gombel adalah salah satu hantu seleb yang popularitasnya tak lekang oleh zaman, termasuk oleh teknologi. Hingga saat inipun, anak-anak masih saja mengenali nama: Wewe Gombel”. (*)

Related Articles

Back to top button