fbpx
Nasional

Begini Risiko Nikah Muda Menurut Kementerian Sosial, Miris!

SEMARANG, energibangsa.idBelum lama ini, sebuah jasa acara pernikahan, Aisha Weddings, lewat situs webnya mengajak perempuan agar menikah muda.

Aisha menilai tugas seorang perempuan adalah melayani kebutuhan suami.

“Jangan tunda pernikahan karena keinginan egoismu, tugasmu sebagai gadis adalah melayani kebutuhan suamimu”, isi kampanye Aisha Weddings.

“Anda harus bergantung pada seorang pria sedini mungkin untuk keluarga yang stabil dan bahagia. Jangan menjadi beban bagi orang tua Anda, temukan pria lebih awal,” demikian sambung kampanye tersebut.

Risiko kematian bayi

Mengetahui hal itu, Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos mengingatkan risiko tinggi kematian bayi pada perempuan yang menikah di bawah usia 20 tahun.

Dilansir dari CNN, Kamis (11/2/2021), Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Harry Hikmat menyebut bahwa bayi yang lahir dari ibu di bawah usia 20 tahun dua kali lebih berisiko meninggal dibanding anak yang lahir dari ibu di usia 20-29 tahun.

“Bayi yang lahir dari ibu di bawah 20 tahun hampir dua kali lebih mungkin untuk meninggal dibandingkan bayi yang lahir dari perempuan umur 20-29 tahun,” ujar Harry, Rabu (10/2.2021).

Mengutip laporan Women’s Health Inisiative pada 2016, Harry menyebut perempuan di usia 15-19 tahun juga lebih rentan meninggal dunia akibat komplikasi saat hamil dan melahirkan.

Dampak lain, katanya, termasuk potensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada perempuan yang menikah di usia muda atau di bawah 20 tahun.

Lebih lanjut, Harry secara tegas menyebutkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah mewajibkan orang tua mencegah perkawinan pada anak.

Catatan pada 2018

Pihaknya mencatat pada 2018 misalnya, satu dari sembilan perempuan atau 11 persen perempuan berusia 20-24 tahun telah menikah sebelum usia 18 tahun.

Sedangkan pada kelompok pada laki-laki, katanya, sebanyak satu persen atau satu dari 100 laki di usia 20-24 tahun telah menikah di usia 18 tahun.

“Diperkirakan ada 1.220.900 yang menikah sebelum 18 tahun, sebanyak 0.56 persen perempuan umur 20 -24 tahun yang menikah sebelum 15 tahun,” kata dia.

Oleh sebab itu, strategi nasional (stranas), kata dia hingga saat ini terus melakukan kerja sama antarkementerian dan lembaga guna mencegah perkawinan pada anak di bawah usia 20 tahun.

Gandeng Kemenag

Stranas juga menggandeng Kementerian Agama (Kemenag), untuk mencegah potensi alasan agama warga yang menolak program pemerintah tersebut.

“Stranas ini juga melibatkan Kemenag sehingga kalau pun ajakan perkawinan anak dikaitkan dengan agama, Kemenag telah berkomitmen untuk terlibat dalam upaya pencegahan,” katanya. (*)

Related Articles

Back to top button