fbpx
Sosial & Budaya

Begini Ramalan Jayabaya tentang Pagebluk Luar Biasa di Tanah Jawa

ENERGIBANGSA.ID—Ramalan Jayabaya mengenai Pulau Jawa lockdown, nampaknya mendekati kebenaran. Tulisan ini tidak bermaksud menakut-nakuti, hanya saja cocoklogi alias ‘gathuk-mathuk’.

Betapa tidak, mencermati perkembangan virus ‘pagebluk’ dengan nama Covid-19 memang semakin tak baik. Kabarnya, bahkan mencapai 1 juta kasus.

Parahnya lagi, ahli epidemik dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman tiba-tiba menggaungkan lockdown Pulau Jawa.

Jika dikaitkan dengan ramalan Jabaya?

Nah, jika kita melakukan pendekatan mitologi atau kata lain ‘klenik’, gagasan Dicky ada benarnya. Sebab, ajakan itu seakan sesuai dengan ramalan Jayabaya yang konon dibuat sekitar 500 tahun yang lalu.

Dalam ramalan itu disebutkan, Pulau Jawa lockdown akibat wabah pandemi (pagebluk) luar biasa. Dan penyakit itu disebutkan, merata di Pulau Jawa.

Melansir portal Lingkar Madiun, lima ratus tahun lalu merupakan jarak rentang tahun antara 2020-2030, atau saat ini. Dan benar, saat ini memang sedang terjadi wabah Covid-19?

Sabdo Palon

Adaya pagebluk luar biasa ini juga akan menjadi tanda Sabdo Palon muncul di tanah Jawa. Selain tanda bencana Gunung Merapi meletus yang juga terjadi di tahun ini.

Sabdo Palon adalah Raja Majapahit yang sangat marah karena Prabu Brawijaya V menyerah kekuasaan kepada Demak. Dia pun berjanji akan mengambil alih Jawa setelah 500 tahun/ sekitar tahun 2020-2030.

Artikel Lingkar Madiun dengan judul “Ramalan Jayabaya 2021, Tanda-tanda Sabdo Palon nagih Janji d Tanah Jawa”, zaman kalasuba, keemasan Indonesia menjadi tanda–tanda kedatangan sabdo palon.

Banyak Musibah yang Menyebar

Heru hara sakeh janma, Rebutan ngupaya bukti, Tan ngetang angering praja, Tan tahan perihing ati, Katungka praptaneki, Pageblug ingkang linangkung, Lelara ngambra-ambra. Waradin saktanah Jawi, Enjing sakit sorenya sampun pralaya”.

Artinya, manusia bingung dengan sendirinya. Sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut.

Hal tersebut masih berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

Datang Membantu Anak Cucu di Tanah Jawa

Sabdo Palon matur sugal, ”Yen kawula boten arsi, ngrasuka agama Islam, wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, momong marang anak putu, sagung kang para nata, kang jume­neng tanah Jawi, wus pinasthi sayekti kula pisahan”.

Sabdo Palon menjawab kasar, ”Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu. Sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se-tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di Jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.”

Tanah Jawa Semakin Rusak

“Warna-warna kang bebaya, angrusaken tanah Jawa, sagung tiyang nambut karya, pamedal boten nyekapi, priyayi keh beranti, sudagar tuna sadarum, wong glidhik ora mingsra,wong tani ora nyukupi, pametune akeh serna aneng wana”.

Artinya, bermacam-macam bahaya yang membuat  tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Para petani pun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

Banyak Kejahatan Terjadi

“Bumi ilang berkatira, ama kathah ingkang ilang, cinolong dening sujanmi, pan sisaknya nglangkungi, karana rebut rinebut, risak tetaning janma, yen dalu grimis keh maling, yen rina-wa kathah tetiyang ambegal”.

Artinya, bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri.

Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tetapi bila siang hari banyak begal.

Menyebarkan Kawruh Budi

“Klawan paduka sang Nata, wangsul maring sunya ruri, mung kula matur petungna, ing benjang sakpungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkep gangsal atus tahun, wit ing dinten punika, kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa”.

Artinya, berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

Muncul Saat Gunung Merapi Meletus

“Sinten tan purun nganggeya, yekti kula rusak sami, sun sajekken putu kula, berkasakan rupi-rupi, dereng lega kang ati, yen durung lebur atempur, kula damel pratandha, pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar”.

Artinya, bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya.

Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

Akan Ada Bau Tak Sedap

“Ngidul ngilen purugira, ngganda banger ingkang warih, nggih punika medal kula, wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, anggereng jagad satuhu, karsanireng jawata, sadaya gilir gumanti, boten kenging kalamunta kaowahan”.

Artinya, lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Budha.

Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi. (sumber: Lingkar Madiun)

Related Articles

Back to top button