fbpx
Religius

Begini Lho.. Cara Santri Kembangkan Toleransi

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Perjalanan sejarah pendidikan di Indonesia mencatat bahwa pesantren adalah salah satu bentuk “Indigenous culture” atau bentuk kebudayaan asli bangsa Indonesia, sebab lembaga pendidikan dengan pola kyai, santri dan asrama telah dikenal dalam kisah dan cerita rakyat maupun dalam sastra klasik Indonesia khususnya di pulau Jawa.

Tak heran jika para ulama yang menyiarkan agama Islam menempuh jalan melalui lembaga pendidikan dengan menggunakan pesantren yang telah ada yang memang ternyata banyak tumbuh dan berakar di masyarakat.

Pesatnya kemajuan pembangunan nasional selama tiga dekade belakangan telah membawa pengaruh positif bagi kemajuan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, di sisi lain kemajuan ini telah melahirkan masalah-masalah baru, seperti kesenjangan sosial, kriminalitas, kenakalan remaja, pergaulan bebas, serta merosotnya kepedulian sosial masyarakat.

Kehadiran pondok pesantren menjadi pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam, dan mengamalkannya sebagai pedoman hidup keseharian, atau disebut tafaqquh fiddiin, dengan menekankan pentingnya moral dalam hidup bermasyarakat”.

Ajaran santri kepada pemuda, ajaran “al-wasathiyah” yang dikembangkan oleh para santri di Indonesia, sebagaimana tercermin dalam ajaran Islam antara lain dalam hal akidah (keyakinan), ibadah (pelaksanaan hukum dan ritual keagamaan), dakwah (syiar agama), dan akhlak (etika).

Santri juga dibekali, “al-ghuluw” dalam beragama yang selalu diperingatkan oleh kiyai kepada para santrinya adalah upaya untuk menjauhi fanatisme yang berlebihan terhadap salah satu pandangan, kecenderungan yang justru mempersulit pelaksanaan ajaran Islam. Berprasangka buruk kepada penganut agama lain, atau bahkan pengafiran terhadap sesama Muslim yang berbeda pemikiran dengannya.

Sikap-sikap moderat para santri yang dikembangkan di masyarakat melalui beberapa, metode pemahaman teks-teks agama dan realita yang ditandai dengan beberapa ciri seperti pemahaman terhadap realitas (fiqh al-waqi’), pemahaman terhadap fiqh prioritas (fiqh al-auwlawiyyat), pemahaman terhadap konsep sunatullah dalam penciptaan makhluk.

Keberadaan pemahaman teks-teks keagamaan secara komprehensif, pemberian kemudahan kepada orang lain dalam beragama, mengedepankan dialog, bersikap toleran, serta sikap keterbukaan dengan dunia luar. Bagaimana cara santri mengembangkan konsep toleransi di masyarakat ?

Landasan Santri Kembangkan Toleransi

Keragaman agama dan budaya di Indonesia hadir dalam konteks peradaban hari ini. Moderasi Islam menjadi hal yang mutlak guna menelurkan jalan tengah saat terjadi masalah-masalah keislaman di era modern.

Ahmad Syafii Ma’arif mengatakan bahwa fenomena  keragaman ini adalah fakta yang harus diakui. Barangsiapa yang tidak mengakui, ia tidak mengakui adanya cahaya matahari di siang bolong.

Moderat dalam bahasa Arab dikenal dengan Al-Wasathiyah. Dalam Al-Qur’an merupakan kata yang terekam dari (QS.al-Baqarah 143:2) “ Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. 

Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah maha pengasih, maha penyayang kepada manusia.” Kata al-Wasath dalam ayat tersebut, bermakna terbaik dan paling sempurna.

Moderasi Islam menjadi sikap yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua sikap yang berseberangan dan berlebihan. sehingga salah satu dari kedua sikap yang dimaksud tidak mendominasi dalam pikiran dan sikap seseorang. Dengan kata lain seorang muslim moderat adalah muslim yang memberi setiap nilai atau aspek yang berseberangan bagian tertentu tidak lebih dari porsi yang semestinya.

Konsep manusia-siapa pun ia tidak mampu melepaskan dirinya dari pengaruh dan bias baik pengaruh tradisi, pikiran, keluarga, zaman dan tempatnya, maka ia tidak mungkin merepresentasikan atau mempersembahkan moderasi penuh dalam dunia nyata.

Hanya Allah yang mampu melakukan hal itu. Dalam realitas kehidupan nyata, manusia tidak dapat menghindarkan diri dari perkara-perkara yang berseberangan.

Implementasi al-Wasathiyyah Islamiyyah mengapresiasi unsur rabbaniyyah (ketuhanan) dan Insaniyyah (kemanusiaan), mengkombinasi antara Maddiyyah (materialisme) dan ruhiyyah (spiritualisme), menggabungkan antara wahyu (revelation) dan akal {reason), antara  maslahah ammah (al-jamaaiyyah) dan maslahah individu (al-fardiyyah). Konsekuensi dari moderasi  Islam sebagai agama, maka tidak satupun unsur atau hakikat-hakikat yang disebutkan di atas dirugikan.

Urgensi moderasi islam ini muncul karena semakin banyaknya pandangan-pandangan mengenai islam yang tidak sesuai dengan kemanusiaan maka lambat laun Indonesia terutama, akan mengalami perpecahan, konflik, dan hancur. Islam merupakan agama yang bersatu tidak bisa dicampur adukkan dengan golongan maupun lebel-lebel tertentu.

Urgensi Moderasi bagi Santri

Selain itu urgensi moderasi Islam bukan hanya di bidang keilmuan, namun sistem dan penerapan yang ada di konteks peradaban zaman sekarang, dan belum ada di zaman dahulu, harus dilakukan dengan jalan ijtima agar tidak ada pandangan-pandangan yang menyalahi.

Bagi santri, menerapkan moderasi Islam hadir agar dapat dikaji secara menyeluruh, tidak setengah-setengah,  agar seseorang tidak merasa golongannya yang paling benar. Jika tidak ada moderasi islam di khawatirkan akan terjadi fanatisme dan kebutaan terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan zaman dahulu.

Seperti contoh, Indonesia merupakan Negara multikultural dengan budaya yang beraneka ragam, maka islam tidak menolak adanya budaya-budaya yang beraneka ragam selama budaya tersebut tidak menyimpang dari syariat Islam.

Budaya yang ada di zaman sekarang mungkin tidak ada di zaman Rasulullah, maka seseorang tidak bisa memberikan label bahwa budaya tersebut tidak benar. Adanya moderasi Islam ini akan menjadi penengah dari berbagai permasalahan yang ada di zaman modern.

Pendidikan pesantren sebagai sarana yang kuat dalam mempelajari keragaman ilmu, budaya, dan pemikiran. Santri juga diharapkan mampu membina setiap perilaku yang dibawa oleh stakeholder didalamnya. pendidikan Islam di Indonesia mulai menegaskan dirinya sebagai tipe pendidikan yang moderat. Prinsip-prinsip moderasi islam dalam pendidikan harus dicanangkan berdasarkan prinsip keseimbangan (tawâzun).

Keseimbangan ini bisa dilihat dari aspek keseimbangan antara perilaku, sikap, nilai pengetahuan, dan keterampilan. Prinsip keseimbangan juga merupakan sikap dan orientasi hidup yang diajarkan Islam, sehingga peserta didik tidak terjebak pada ekstrimisme dalam hidupnya, tidak semata-mata mengejar kehidupan ukhrawi dengan mengabaikan kehidupan duniawi.  

Prinsip moderasi Islam yang dikembangkan santri menjiwai prinsip-prinsip “Bhineka Tunggal Ika,” sebagai prinsip kesetaraan dan keadilan di tengah perbedaan guna mencapai persatuan. Bagi santri , pemeliharan terhadap perbedaan-perbedaan peserta didik, baik berupa perbedaan bakat, minat, kemampuan, kebutuhan, agama, ras, etnik, dan perbedaan lainnya. (Fadli/EB).

Related Articles

Back to top button