Pojok BangsaReligius

Begini Fakta Jamaah Ahmadiyyah yang Berhasil Dikupas FKUB Jateng

ENERGIBANGSA.ID – Selama ini masyarakat kerap mendapatkan informasi tentang orang Ahmadiyah yang melakukan ibadah haji bukan di Makkah-Madinah, melainkan di Qadian India.

Hal inilah yang ditanyakan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Demak KH Abdullah Syifa dalam sebuah forum diskusi yang diadakan di ruang rapat lt 3 markas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), kompleks Kampus Mubarak, Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/1/2020) pagi.

Soal Haji dan Imam Mahdi

Kiai yang juga Ketua Komisi Ukhuwah di MUI Kabupaten Demak itu juga menanyakan maksud kenabian Mirza Ghulam Ahmad, sang pendiri Jemaat Ahmadiyah.

“Mohon maaf lho ya, pertanyaan ini penting untuk dijawab. Karena kita di FKUB juga harus mendapatkan klarifikasinya,” kata Syifa

Mendapat pertanyaan itu, Wakil Amir Nasional Bidang Keuangan JAI, Zaky Fidaus Syahid memberikan jawabannya.

“Orang Ahmadiyah tidak ada yang berhaji di Qadian India,” jelasnya.

Jemaat Ahmadiyah berpendapat bahwa Mirza Ghulam Ahmad merupakan Imam Mahdi yang dijanjikan oleh Allah, yaitu orang yang mematahkan salib dan membunuh babi.

Menurut dia, hal ini tak lepas dari tanda-tanda alam yang diterima dan diyakini pengikut Mirza Ghulam Ahmad.

Soal Allah dan Muhammad

Semua pengalaman spiritual Mirza tertulis dalam kitab tazkirah yang dibukukan setelah wafatnya, termasuk penjelasan kenabian Mirza. Berdasar pada keyakinan yang dianutnya, Zaky menegaskan Tuhan dan Nabi yang menjadi syahadat Ahmadiyah tidak berbeda.

Yakni bersaksi bahwa Allah sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai Nabi. Pun demikian kitab suci yang digunakan adalah Al Quran. Landasan hukumnya tetap Alquran dan Hadits Nabi.

Sholat 5 Waktu

Dalam beribadah juga mengerjakan shalat 5 waktu, dan juga berhaji sebagaimana umat islam pada umumnya, yakni di Makkah dan Madinah. Sementara, dalam ilmu fiqih, Ahmadiyah mengaku lebih dekat dengan mazhab Hanafi.

Ia tidak mengelak menyebut Mirza sebagai Nabi bagi Ahmadiyah, hanya saja kenabian Mirza bukanlah sebagaimana pengertian nabi pada umumnya Nabi. Akan tetapi merujuk pada yang dimaksud oleh Mirza, yakni menjadi al masih yang mematahkan salib.

Terkait ajaran yang diteruskan para khalifah Ahmadiyah, Zaky mengungkapkan, wasiat pendiri Jemaat Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad pada keluarga, sahabat, dan pengikutnya untuk tetap berpegang pada ajaran Islam yang telah diajarkannya dan menetapkan tentang sistem (organisasi) Khilafah Ahmadiyah, “Sehari setelah wafatnya beliau, terpilihlah khalifah pertama,” kata Zaky memaparankan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pembentukan organisasi secara terstruktur di Hindustan (India dan Pakistan) pada tahun 1934, dan terstruktur di seluruh dunia pada tahun 1945. Khalifah Ahmadiyah berpindah kedudukan di London, Inggris pada tahun 1982 dengan alasan adanya jaminan keamanan.

Khilafah Ahmadiyah

Zaky menyebut, sistem khalifah di Ahmadiyah berbeda dengan khalifah yang digaungkan beberapa pihak belakangan ini, “Khalifah Ahmadiyah adalah khalifah ruhani, khalifah yang mengajak pada perdamaian. Tidak mencari teritorial kekuasaan,” jelasnya.

Organisasi JAI terbilang sangat rapi. Ia menyebut demua kegiatan dilaporkan secara berjenjang dari tingkat terendah sampai tingkat nasional, “Laporan pengurus tingkat nasional dari 213 negara bertanggung jawab langsung pada khalifah,” ungkapnya.

Terkait mekanisme pemilihan pemimpin di Ahmadiyah di semua tingkat, termasuk memilih khalifah berlangsung sangat singkat dan terbuka, “Dilarang berkampanye, abstain, mengajukan dan memilih diri sendiri,” tuturnya.

Islam Tradisional

Dalam pendanaan disampaikan secara akuntable dan sesuai dengan zamannya. Semua pembiayaan diterima dari anggota sendiri, tidak menerima iuran atau bantuan dari pihak lain, “Ada banyak aplikasi digunakan untuk laporan keuangan, semua bisa mendonasikan pengorbanannya lewat aplikasi, semuanya terpusat secara internasional,” bebernya.

Memberikan tanggapan, salah satu rombongan FKUB Jateng, Ali Romdhoni menyebut Ahmadiyah termasuk dalam kategori Islam Transnasional, yakni sebuah organisasi agama Islam yang tak terikat teritorial sebuah negara.

Meski demikian, dosen Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) ini juga berpendapat terdapat poin penting yang perlu digaris bawahi, yakni sistem kekhilafahan di Ahmadiyah yang tidak bermaksud mendirikan negara dalam negara. Sebab, peran khalifah di Ahmadiyah menjadi sentra fatwa keagamaan.

Tidak Membahayakan

Selaku peneliti, Ali Romdhoni yang sedang merampungkan S3 di Tiongkok tersebut juga menyebut ajaran Islam Ahmadiyah lebih mirip dengan tarekat dalam Islam. Meski belum bisa disebut sebagai sebuah tarekat, namun terdapat kemiripan dalam hal syarat sebelum berbaiat Ahmadiyah.

Sebelumnya, Ketua FKUB Jateng, KH Taslim Sahlan dalam sambutan di sela kegiatan Jalsah (pengajian) Ahmadiyah menyebut tak menemukan konten yang membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami tidak menemukan (Jalsah Ahmadiyah) satu narasipun yang meresahkan,” kata Taslim. Taslim bahkan mengaku hal tersebut terbukti setelah menyaksikan konten youtube dan televisi tayangan Ahmadiyah.

Sebagai informasi, FKUB Jateng periode ini tengah menggencarkan silaturahmi rutin ke berbagai tokoh dan organisasi kemasyarakatan (Ormas) keagamaan. FKUB sebagai sebuah organisasi pemerintah memiliki fungsi sebagai media untuk merawat kerukunan antarumat beragama dan juga aliran penghayat yang ada di Indonesia.

“Kami, FKUB Jateng akan terus menjadi jembatan kecil dalam membina kerukunan dan persaudaraan nasional,” tandasnya. (arh)

Related Articles

Back to top button