fbpx
Ekonomi & BisnisKabar Indonesia

Bantah Resesi, Ini Tanggapan Pakar Ekonomi Unair

ENERGIBANGSA.ID  (Surabaya)– Disaat beberapa menteri Jokowi menyebut Indonesia sebentar lagi dilanda resesi. Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Dr Wisnu Wibowo justru memaparkan jika perekonomian Indonesia kian membaik.

“Kalau dari berbagai referensi yang saya pakai misalnya laporan perekonomian kuartal dua yang disampaikan oleh Bank Indonesia, itu kan pada kuartal ketiga yang diawali bulan Juli itu sebenarnya sudah ada tren perbaikan atau tanda-tanda perbaikan pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Wisnu ketika diwawancarai di Surabaya dilansir dari detik.com, Selasa (1/9/2020).

Baca Juga : Jurus Hindari Resesi & Kekuatan RI ala Sri Mulyani

Wisnu selaku dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair ini menjelaskan bahwa meski masih negatif. Namun pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga pada Juli hingga September jauh lebih baik dibanding kuartal kedua pada April-Juni.

“Artinya kuartal ketiga mungkin negatif tetapi sebenarnya sudah dalam tren perbaikan, dikatakan pulih belum memang. Tetapi saya pikir ini harus dikuatkan pemahaman oleh publik jika kuartal ketiga tidak akan lebih buruk dari kuartal kedua. Boleh kita katakan perjalanan ekonomi di 2020 yang terburuk itu di kuartal kedua dan itu sudah kita lalui,” ungkap Kaprodi S2 Ilmu Ekonomi Unair ini.

Wisnu juga mengatakan bahwa ada sejumlah perbaikan di beberapa sektor. Dia menyebut hal ini adalah pertanda baik. Namun ia juga menyoroti soal pendapat menteri yang menyebut akan terjadi resesi. Hal ini justru akan menimbulkan sentimen negatif di masyarakat.

“Kalau kemudian dari sisi yang lain dari tren perbaikan itu juga kelihatan, misalnya dari sisi kita mampu menjaga katakanlah neraca pembayaran juga surplus, kemudian cadangan devisa kita juga meningkat, nilai tukar rupiah kita relatif terkendali, dan indeks harga saham beberapa lalu malah positif,” jelas Wisnu.

“Jika (Indeks harga saham) dalam beberapa hari ini negatif, curiga saya terpengaruh karena sentimen publik sebagai dampak informasi dari pemerintah yang sering simpang siur atau kurang koordinasi antara satu dengan yang lain. Presiden sudah mengingatkan bahwa nantinya itu satu pintu saja jangan setiap orang atau yang tidak punya relevansi kuat di sana bukan di badannya menyampaikan hal tersebut,” tambahnya.

Wisnu juga sempat menerangkan jika beberapa hasil survei memiliki hasil yang cenderung positif. Seperti contoh survei perilaku konsumen masyarakat hingga survei dunia usaha.

Baca Juga : Di Ambang Resesi, Ridwan Kamil Pede Pulihkan Ekonomi

“Survei konsumen memang konsumen di kuartal kedua itu memperkirakan kondisi keuangan buruk, makanya mereka mengurangi konsumsi. Tetapi di Kuartal ketiga di bulan Juli itu mereka meyakini perekonomian akan menjadi lebih baik. Jadi kalau indeks persepsi, indeks keyakinan konsumen ini sudah meningkat dari Juni 83,8 persen menjadi 86,2 persen. Akan ada perbaikan,” ungkap Wisnu.

“Kemudian untuk survei dunia usaha, kalangan dunia usaha menyatakan kegiatan usaha itu akan meningkat di kuartal ketiga ini. Jadi ada indikator saldo bersih tertimbang itu positif 0,52 persen. Artinya bahwa perekonomian yang kita lihat secara kasat mata ini sudah mulai bergerak lebih tinggi dibanding kuartal kedua,” imbuhnya.

Sementara untuk tantangan ke depannya, Wisnu menyebut ada pada dunia perbankan. Karena ada perlambatan untuk penyaluran kredit, yang perkiraannya di tahun 2020 ini hanya 2,5 persen.

“Tantangannya justru adalah bagaimana untuk pemulihan ekonomi itu perbankan bisa lebih aktif, bagaimana untuk pemulihan ekonomi itu perbankan bisa lebih aktif dan meningkatkan kemampuan intermediasinya,” ujar Wisnu.

Terakhir, Wisnu menyarankan pemerintah untuk mengoptimalkan penyaluran program pemulihan ekonomi. Jika pemerintah bisa fokus, perekonomian akan pelan-pelan tumbuh dan membaik.

“Di sisi yang lain tentu saya dari sisi pengamat atau ekonom kita di sisa waktu ini, mari kita fokus menentukan strategi untuk penyerapan dana program pemulihan ekonomi. Kalau kita lihat masih 27,7 persen dari Rp 695,2 triliun baru Rp 182,53 triliun yang disalurkan,” pungkasnya. (buddy/EB/detikcom).

Related Articles

Back to top button