fbpx
Sosial & Budaya

Bagaimana Wajah Untung Surapati?

ENERGIBANGSA.ID—Untung Suropati dikenal sebagai mantan budak yang melawan VOC di Batavia. Ia berasal dari Bali yang ditemukan oleh Kapten van Beber, seorang perwira VOC yang ditugaskan di Makassar.

Kapten van Beber kemudian menjualnya kepada perwira VOC lain di Batavia yang bernama Moor.

Budayawan Betawi Ridwan Saidi menemukan lukisan wajah Untung Suropati. Ia memperoleh foto lukisan Untung Surapati dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. 

Sebelumnya ia tidak mengetahui itu adalah wajah Untung Surapati. Suatu saat, temannya yang baru pulang dari Belanda bertamu ke rumahnya di kawasan Bintaro, Jaksel.

Foto dalam lukisan

Kemudian Ridwan memperlihatkan foto lukisan yang baru saja diperolehnya. Temannya itu terkejut saat menyaksikan lukisan itu.

”Ini lukisan Untung Surapati. Saya melihat lukisan semacam ini di Leiden, Belanda. Berarti lukisan itu difoto,” kata teman Ridwan.

Setelah itu, Ridwan baru mengerti bahwa foto yang diperolehnya adalah foto lukisan Untung Suropati.

Dalam lukisan itu Untung digambarkan sedang memegang payung, memayungi seorang Noni Belanda dan laki-laki belanda memakai topi.

Di belakang mereka terlihat pemandangan bukit tambora (sekarang rata jadi perumahan penduduk) dan kapal-kapal berlabuh di pelabuhan Sunda Kelapa.

“Satu di antara pekerjaan budak adalah membawa payung,” ucapnya.

Budak Kompeni

Budak memiliki pekerjaan lain yaitu membuang kotoran majikannya setiap pagi. Jadi dulu orang Belanda jika membuang air besar di sebuah ember.

Di atas ember itu ditaruh kursi untuk duduk. Lalu setiap pagi kotoran itu dipikul para budak ke Sungai. Menurut Ridwan, tradisi menanam tinja memang belum populer abad itu.

Jika majikannya membuang hajat di ember, budaknya langsung ”nangkring” di pinggir sungai.

Warga Belanda banyak memelihara budak karena status sosial atau tinggi rendahnya derajat seseorang dihitung dari berapa banyak mempunyai budak.

Bukan hanya sekedar dari kekayaan, perhiasan, atau kendaraan (kereta kuda).

Bahkan, mereka yang status sosialnya paling rendah sekalipun juga memelihara budak hanya untuk memayungi dengan payung keemasan sebagai salah satu gaya hidup.

“Di samping untuk meningkatkan status sosial, perempuan-perempuan Belanda maupun Eropa di Batavia ternyata sok pamer atas segala materi yang mereka miliki. Jadi, jangan heran saat pergi dan pulang dari gereja mereka bawa budak sebanyak-banyaknya,” paparnya.

Tiap budak melayani dan membawakan barang keperluan majikannya. Ada yang membawakan buku nyanyian, kipas dan kotak sirih.

Saat itu wanita dan juga pria umumnya makan sirih. Kotak sirih ini juga bukan sekedar tempat menyimpan sirih, pinang, dan gambir, tapi juga jadi alat pamer.

Kotak sirih diberi hiasan indah dan sekaligus berfungsi sebagai tempat perhiasan pula.

Ditemukan di abad ke-17

Seperti ditulis dalam sejarah, Untung Surapati kecil ditemukan pada pertengahan abad ke-17 di Pasar Budak Makassar, Jakarta.

Dia seorang anak lelaki keturunan bangsawan Bali yang jadi budak belian. Seorang pejabat VOC, Pieter J. Knoll–dalam Babad Keraton dan Abdul Muis disebut Kapitan Moor–membeli bocah 8 tahun itu.

Akhir dari kehidupan

Setelah di Batavia, Untung kecil tumbuh dan dipercaya menemani anak-anak Pieter Knoll dan akrab dengan Suzanna, putri Knoll.

Seiring waktu berlalu, keakraban itu berbuah cinta. Knoll berang atas cinta terlarang itu dan Untung diadili dan ditahan di Gedung Stadhuis, sementara Suzanna bakal dipulangkan ke Belanda.

Di tahanan, Untung gusar menyaksikan perlakuan kejam para pembesar Belanda terhadap para budaknya.

Ia merancang strategi meloloskan diri dan berencana melakukan perlawanan terhadap kesewenangan VOC.

Pertumpahan darah pun terjadi, Untung melakukan pemberontakan di Batavia yang menggegerkan Kompeni. (*)*Artikel ini telah tayang di Okezone, edisi Sabtu (20/2/2021)

Related Articles

Back to top button