fbpx
Teknologi

Bagaimana Nasib Janji Koneksi 5G di Indonesia?

ENERGIBANGSA.ID—Kehadiran koneksi jaringan 5G di Indonesia akan membuat kemajuan bagi industri telekomunikasi.

Setelah melakukan rangkaian uji coba, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) menetapkan sejumlah spektrum frekuensi untuk menggelar jaringan generasi ke-5 tersebut.

Frekuensi yang akan digunakan antara lain; 2,3 Ghz, 2,5 Ghz, 2,6 Ghz, 3,3 Ghz, dan 3,6 Ghz.

Spektrum ini dibagi menjadi tiga lapisan, yaitu lowerband, coverage layer, dan highband.

Hadirnya jaringan 5G selain meningkatkan kecepatan internet dan menghubungkan berbagai perangkat.

Namun juga mendobrak daya saing Indonesia di Asia Tenggara maupun global.

Maka, percepatan implementasi 5G memang perlu perhatian berbagai pihak.

Dikutip dari data World Bank dan Google, pertumbuhan penggunaan internet di Indonesia pada periode 2015-2020 menjadi yang paling pesat se-ASEAN.

Dari 92 juta pengguna pada 2015 menjadi 215 juta pengguna pada 2020.

Pemerintah juga sudah menyiapkan peta jalan (roadmap) 5G sejak September 2020.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate mengatakan bahwa pemerintah masih terus menata ulang spektrum radio yang akan dialokasikan untuk jaringan 5G.

Terlepas dari pandemi global, sebagian besar operator di Asia dan Amerika Utara tetap optimistis soal penerapannya.

Lelang frekuensi 5G

Pada November 2020, Kemenkominfo menggelar lelang pita frekuensi 2,3 Ghz.

Tujuannya untuk meningkatkan kualitas layanan secara maksimal, serta mendorong akselerasi gelaran infrastruktur teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) dengan teknologi generasi kelima (5G).

Dari seleksi ini, terpilih tiga operator yang menerima tambahan pita frekuensi, yaitu Telkomsel, Smartfren, dan Tri Indonesia.

Ketiganya langsung menyusun rencana untuk memanfaatkan tambahan frekuensi itu.

Smartfren mendapatkan blok A, Tri Indonesia blok B, dan Telkomsel blok C.

Lelang dibatalkan

Lelang frekuensi itu kemudian dibatalkan oleh Kemenkominfo.

Menkominfo Johnny G. Plate dengan alasan sebagai langkah kehatian-hatian dan kecermatan.

Tapi bagi kalangan media, alasan pembatalan itu belum sepenuhnya transparan.

Alasan pembatalan lelang adalah soal administratif yang tak dapat diungkap ke publik.

Meski demikian ia berdalih bahwa proses lelang bukan dibatalkan, melainkan akan diulang.

Ia juga menyebut bahwa lelang frekuensi 2,3 GHz itu bukan ditujukan untuk menggelar 5G, melainkan untuk memperluas layanan operator seluler—termasuk jaringan 4G.

Padahal, negara-negara lain mulai berlomba-lomba membangun koneksi 5G.

Sedangkan Indonesia masih harus berpuas diri dengan 4G, atau maksimal 4,5G (VoLTE) yang saat ini sudah disediakan operator lokal, Smartfren.

Meski kecewa, ketiga operator ini menyatakan akan terus mengikuti proses yang ditetapkan Kemenkominfo.

Ponsel 5G terlanjur dikeluarkan di Indonesia

Sejak adanya informasi jaringan 5G bakal hadir di Indonesia, produsen ponsel juga tidak mau ketinggalan.

Seperti Xiaomi, Oppo, Samsung, Huawei, bahkan Apple, mulai mengeluarkan model-model ponsel berbasis cipset 5G ke pasar Indonesia.

Upaya produsen untuk menghadirkan ponsel inovasi terbaru, sebagai salah satu ceruk terbesar di Asia.

Misal koneksi 5G sudah tersedia, pengguna sudah bisa langsung merasakan manfaatnya.

Walaupun masih harus menanti informasi 5G selanjutnya di Indonesia, penentuan frekuensi dan lelang frekuensi menjadi angin segar bagi operator telekomunikasi dan produsen ponsel. (Nicola/EB)

Related Articles

Back to top button