Nasional

Astronom Indonesia Berhasil Jepret Fenomena Langit Nebula, Apa Itu?

ENERGIBANGSA.ID (Semarang) – Pemandangan langit berhias bintang bercorak merah, hitam, dan biru mampu diabadikan Astronom Planetarium dan Observatorium Jakarta Muhammad Rayhan dan astronom BPON Kupang M. Dio Danarianto. Fenomena langit ini dikenal dengan Nebula Amerika Utara (NGC 7000).

Dijelaskan LAPAN dalam laman resminya, NGC 7000 adalah daerah tempat kelahiran bintang yang berada di sekitar ekor Rasi Cygnus, rasi angsa di langit utara.

LAPAN menyebut nebula tersebut merupakan nebula emisi yang terbentuk dari sekumpulan awan dan debu molekuler yang terpendarkan akibat ionisasi pada wilayah H II, di mana gas hidrogen terionisasi oleh radiasi bintang muda yang sangat panas.

“Barisan awan yang disebut dengan Dinding Cygnus terlihat di sisi bawah gambar, yang merupakan konsentrasi pembentukan bintang paling rapat di daerah ini. Di atasnya, terdapat nebula berwarna gelap yang menyembunyikan bintang yang menjadi tenaga dari seluruh pendaran nebula,” kutip LAPAN.

LAPAN membeberkan foto yang diambil oleh Rayhan dan Danarianto menampilkan daerah Nebula Amerika Utara yang diambil pada panjang gelombang H-alpha, O III, dan S II di BPON Kupang. Gambar itu merupakan komposit citra observasi selama 4 jam 40 menit.

Sedangkan gambar lain, lanjut LAPAN menunjukkan lokasi bintang J20555125+4352246 yang disinyalir menjadi sumber tenaga pendaran cahaya nebula ini. Bintang itu merupakan bintang ganda muda dengan kelas spektrum O3 dan O8 yang temperaturnya mencapai 40000K.

“Namun, karena bersembunyi di balik awan debu yang rapat, sinar dari bintang tersebut terhambur hingga nampak redup dan kemerahan,” kutip LAPAN.

Menggunakan kamera khusus

Rayhan menyampaikan foto itu diambil dengan menggunakan kamera astro khusus. Tidak hanya menggunakan CCD, dia juga menggunakan Cooled, Mono sensor, dan filter narrowband untuk mengabadikan gambar tersebut.

“Saya mengambil data dalam tiga filter pita sempit yang berbeda dari Hidrogen-Alfa, Sulfur II, dan Oksigen III. Saya kemudian memproses semuanya dan menggabungkannya dan memetakan warnanya dalam pesanan S.H.O (SII untuk Merah, H-a untuk Hijau, dan OIII untuk Biru) untuk membuat gaya warna Palet Hubble yang terkenal,” kata Rayhan dalam akun resminya.

Secara keseluruhan, Rayhan menyebut kamera CCD Mono Berpendingin benar-benar berperan dalam mengabadikan NGC 7000. Bahkan, dia mengaku membutuhkan waktu dua minggu untuk mempelajari cara memproses data hingga akhirnya menghasilkan hasil gambar tersebut.

“Setelah semua upaya untuk begadang pada banyak malam mengumpulkan foto di tempat terpencil yang berangin dingin, kemudian menghabiskan berjam-jam, berhari-hari, dan berminggu-minggu di depan layar komputer menghancurkan inti dari prosesor, akhirnya saya dapat bergerak mundur dan mengagumi hasilnya,” ujarnya.

“Jalannya memang panjang dan kasar tetapi seluruh proses hanya membenarkan lebih jauh ide saya tentang Astrofotografi: ini menantang tetapi bermanfaat,” ujar Rayhan. (Sasa/EB/CNNIndonesia).

Related Articles

Back to top button