fbpx
Kabar Indonesia

Asal usul Kota Semarang; Sejarah dan Perkembangan Menuju Kota MICE

SEMARANG, energibangsa.id — Kota Semarang merupakan pusat sekaligus ibukota Provinsi Jawa Tengah. Kota legenda ini memiliki rentetan sejarah panjang yang tak boleh kita lupakan.

Secara etimologis nama Semarang berasal dari kata “Sem” yang merujuk pada pohon asam dan “arang” yang berarti jarang. Apabila keduanya digabungkan menjadi “asem arang” yakni pohon asam dengan buah yang jarang.

Penamaan Semarang dimulai pada abad ke-8 M, dari daerah di pesisir utara yang bernama Pragota (saat ini bernama Bergota). Wilayah tersebut merupakan bagan dari Mataram Kuno, kala itu masih berupa pelabuhan dengan banyak pulau kecil di sekitarnya. Namun lama-kelamaan air di sekitar Pragota menyusut hingga berubah menjadi daratan.

Sejarah berdirinya Semarang

Dilansir dari Kompas.com (4/6/2019), pangeran dari Demak yang bernama Pangeran Made Pandan menyebarkan agama Islam ke kawasan Pragota pada abad 15 M. Sejak saat itu, daerah tersebut semakin hidup. Satu persatu manusia mulai berdatangan, tanah menjadi gembur, dan tanaman tumbuh lebat.

Salah satu tanaman yang berhasil tumbuh subur adalah pohon asem arang, hingga akhirnya kawasan itu dinamai Semarang. Karena Pangeran Made Pandan bisa disebut sebagai orang pertama yang menginjakkan kaki di sana, maka dia disebut sebagai pendiri Semarang. Pangeran Made Pandan memiliki kinerja sangat baik dan mempunyai gelar Kyai Ageng Pandan Arang I.

Setelah wafat, kedudukannya digantikan putranya yang kemudian bergelar Kyai Ageng Pandan Arang II. Semarang semakin makmur, sehingga membuat Sultan Hadiwijaya dari Pajang merasa tertarik. Beliau berkonsultasi dengan Sunan Kalijaga untuk menjadikan Semarang menjadi kabupaten.

Hingga akhirnya 12 Rabiul Awal 954 Hijriyah, yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, Semarang resmi menjadi kabupaten. Hingga sampai saat ini, tanggal 2 Mei ditetapkan menjadi hari jadi Kota Semarang.

Di masa kolonial

Semarang melewati sejarah yang sangat panjang. Pernah jatuh kepada VOC sebagai ganti dari hutang yang dilakukan oleh Amangkurat II. Bahkan Belanda pernah membentuk pemerintahan Gemeente di Semarang yang dikepalai oleh BurgeMeester atau walikota.

Namun, sistem pemerintahan tersebut hanya singkat dan digantikan oleh Jepang. Semarang pernah jatuh ke tangan Inggris dan pada tahun 1946 atas nama sekutu, Semarang diserahkan kepada Belanda.

Semasa penjajahan Belanda, Kota Semarang tidak memiliki pemerintahan. Namun secara diam-diam, gerilyawan Kota Semarang terus berjuang untuk mempertahankan pemerintahan hingga Desember 1948. Pengungsian kala itu secara kontinyu berlangsung dari Purwodadi ke Gubug, lalu Kedungjati, Salatiga, hingga Yogyakarta.

Pemerintahan tersembunyi tersebut dipimpin tiga orang, yaitu R. Patah, R. Prawotosudibyo, dan Mr. Ichsan. Penduduk Belanda pun berusaha membentuk kembali pemerintahan dengan nama Recomba, namun upaya pimpinannya, R. Slamet Tirtosubroto, berakhir tanpa hasil.

Selanjutnya terjadi perjuangan yang panjang. Hingga akhirnya tanggal 1 April 1950 Mayor Suhardi, Komandan KMKB menyerahkan kepemimpinan Semarang kepada Mr Koesoedibyono. Sejak saat itu, aparatur pemerintahan kembali disusun untuk memperbaiki pemerintahan Semarang hingga kini.

Pengembangan menuju Kota MICE

Kota Semarang kini berdiri dengan visi yang jelas, yaitu menjadi kota perdagangan dan jasa yang hebat menuju masyarakat yang semakin sejahtera. Hal ini salah satunya diupayakan melalui julukan yang diberikan oleh Kota Semarang untuk mereka sendiri, yaitu The Port of Java, atau Pelabuhannya Jawa.

Tiyanto, dkk (2011) dalam jurnal “Strategi Pengembangan Kota Semarang Menuju Kota MICE (Meetings, Incentive, Conference, Exhibition), Upaya Percepatan Pembangunan Menuju Kota Semarang Setara” menjelaskan strategi pengembangan Kota Semarang menuju Kota MICE (Meeting, Insentive, Conference maupun Exhibition).

Hal itu terutama terkait erat dengan sektor perdagangan dan jasa khususnya industri pariwisata. Meminjam pendapat William Henn “strategy is the concentration of resources on selected opportunities for competitive advantage”.

Kota Semarang perlu berkosentrasi memilih peluang terhadap sumberdaya yang dimiliki untuk keunggulan bersaing sebagai kota MICE. Mengacu James Brian Quinn’s strategy focus: “ A strategy is the pattern or plan that integrates an organizations’s major goals, policies, and action sequences into a cohesive whole”.

Kota Semarang menggunakan strategi berdasarkan perencanaan atau pola MICE yang terintegrasi pada tujuan, kebijaksanaan dan kegiatan berurutan ke dalam satu kesatuan yang utuh.

Meskipun masih terkendala menjadi daerah destinasi pariwisata penyelenggaraan MICE Semarang memiliki potensi yang patut dikembangkan. MICE dapat menjadi “slogan” alternatif bisnis yang menjanjikan.

Terutama, Kota MICE menekankan pada jasa wisata dengan aksesibilitas, fasilitas, dan rekreasi. Well, dengan begitu Kota Semarang terus memacu pengembangan sebagai kota jasa yang berada di teras Jawa Tengah (dd/EB).

Related Articles

Back to top button