fbpx
Gaya Hidup

Asal Mula Bahasa Jawa; Terbagi Menjadi Beberapa Tingkatan

ENERGIBANGSA.ID–Pernahkah kamu membayangkan mengapa dalam satu bahasa harus terbagi menjadi beberapa tingkatan?

Di  Jawa, kita mendengar percakapan menggunakan dialeg Jawa. Pengucapan bahasa Jawa dalam percakapan anak dengan teman sebayanya, jelas berbeda ketika terjadi dialog antara anak dengan orang dewasa.

‘Ngoko-Krama’

Perbedaan tersebut tidak semata-mata terjadi begitu saja. Moedjanto (1987) mengatakan, tataran ‘Ngoko-Krama’ telah ada sejak zaman Jawa Kuno.

Penuturan tersebut digunakan sebagai penghormatan terhadap seseorang dengan status sosial yang lebih tinggi. Walaupun pemakaian kosa kata krama saat itu masih sangat terbatas.

Di era Kerajaan Demak dan Kerajaan Pajang, tingkatan tutur ‘krama-ngoko’ mungkin sudah mulai muncul. Akan tetapi hampir tidak ditemukan hasil sastra pada jaman itu. Sehingga sangat sulit mengidentifikasi tataran bahasa yang dipakai.

Politik Tataran Bahasa

Munculnya tataran bahasa sangat berkaitan dengan politik yang dijalankan penguasa Mataram untuk memperkuat kedudukannya.

Caranya yakni dengan membuat suatu jarak sosial yang ketat antara kawula dan Gusti. Bahkan secara kasat mata, pembuatan jarak sosial secara fisik diwujudkan dengan dibangunnya tembok benteng Keraton.

Dengan tujuan memperkuat kedudukannya, salah satu alat untuk mengukuhkan status sosial yang baru. Adapun cara untuk memperkuat kedudukannya yakni dengan menciptakan jarak sosial dalam berbahasa. Yaitu dengan mengembangkan tataran ‘krama-ngoko’.

Ditentang Masyarakat Pesisir

Penerapan bahasa krama yang dilakukan dinasti Mataram mendapat pertentangan oleh masyarakat Islam pesisir. Yang sama sekali tidak mengenal bahasa tata cara itu.

Setelah penaklukan Giri, Gresik dan Surabaya wilayah pesisir utara itu jatuh ke Mataram. Dan, tentu saja dilakukan pemaksaan pemakaian krama dapat berjalan lancar.

Akan tetapi, tidak sesempurna seperti pemakaian di pusat kerajaan Mataram. Akhirnya, dialog yang dibangun masih terkesan kasar.

Demikian pula ketika Cirebon, Jepara dan Semarang jatuh ke tangan VOC sebagai akibat untuk pelunasan hutang-hutang Amangkurat II. Aura atau sinar bahasa krama semakin redup di wilayah-wilayah tersebut.

Bahasa ‘krama alus’ hanya bertahan di Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta saja. Khusus dalam kalangan istana muncul ragam ‘Basa Bagongan’ atau ‘Basa Kedhaton’ yang bersifat inklusif.

Tingkatan bahasa Jawa

Namun sejak tahun 1900-an bahasa tersebut sudah jarang digunakan di dalam kehidupan keraton. Dilansir dari IDN Times (17/11/2020), masyarakat Jawa mengenali bahasa Jawa dalam beragam tingkat, sebagai berikut.

1.Ngoko Lugu

Ngoko lugu merupakan tingkatan pertama dan paling dasar dalam bahasa Jawa. Bahasa ini hanya diterapkan untuk komunikasi dengan orang yang lebih muda atau orang yang kedudukannya sejajar dengan kita.

Misalnya, komunikasi antara orangtua dengan anaknya, majikan dengan pembantunya, atau sesama teman yang sudah dekat dan saling akrab.

2.Ngoko Alus

Tingkatan kedua, ialah ngoko alus. Setingkat lebih tinggi daripada ngoko lugu, bahasa ini digunakan untuk komunikasi dengan orang yang sudah akrab tapi masih menjunjung tinggi kesopanan.

Serta, rasa untuk saling menghormati. Misalnya, komunikasi antara sesama rekan kerja di kantor. 

3.Krama Lugu

Tingkatan yang lebih tinggi dari ngoko, ialah bahasa krama. Bahasa krama dibagi lagi menjadi dua, yakni krama lugu dan krama inggilKrama lugu inilah yang merupakan tingkatan paling dasar dari bahasa Krama. 

Krama lugu digunakan untuk komunikasi dengan orang yang secara usia lebih tua, atau lebih tinggi kedudukannya, serta sesama teman yang belum dekat dan akrab.

4.Krama Inggil

Krama inggil merupakan tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa. Tak jauh berbeda dari Krama lugu, bahasa ini digunakan untuk komunikasi dengan orang yang lebih tinggi, baik secara usia maupun kedudukannya.

Selain itu, bahasa ini juga digunakan untuk komunikasi antara orang yang tidak saling kenal. Perbedaan antara Krama lugu dengan Krama inggil hanya terletak pada tingkatan dan beberapa kosakatanya saja. (Ara/ EB)

Related Articles

Back to top button