Essai

Apa Jadinya Jika Dulce Maria Tinggal di Indonesia?

Oleh: Aning Andari

Semenjak kerja, aku mulai tergabung dalam paguyuban orang-orang jarang nonton tivi. Selain lebih memilih untuk rebahan sambil Twitteran, acara di tivi juga kurang menyenangkan. Biasanya tivi di rumah dinyalain cuma buat dekorasi dan backsound aja biar gak sepi-sepi amat.

Beda dengan zaman waktu aku masih kecil dulu. Sekitar tahun 2000an, acara tivi menurutku bagus-bagus. Mulai dari kartun Sailor Moon, sinetron Tersayang, acara kuis Komunikata, sampai telenovela yang melegenda yaitu Amigos. Dulu kalau lihat Ana sama Pedro tuh auto ngebayangin, “Wah, ini couple goals banget!”. Bahkan sampai terpikirkan nanti kalau udah gede, pokoknya mereka harus nikah! Haha, siapa gue ngatur-ngatur mereka?

Selain Amigos, ada juga telenovela Carita de Angel yang tokoh utamanya bernama Dulce Maria. Kalau kata anak zaman sekarang, dia tuh uwuuu banget! Ceria, aktif, punya anjing yang lucu, dan.. dia tuh cenayang ya? Kok bisa gitu pergi ke gudang sekolah lalu ketemu sama ibunya yang sudah meninggal? Kalau aku jadi temennya, agak serem sih bergaul sama dia.

Yaa mungkin kalau di negara asalnya di Meksiko, hal itu wajar aja kali ya. Tapi gimana jadinya kalau Dulce Maria tinggalnya di Indonesia?? Hmm.. coba kita berandai-andai.

Bayangkan Dulce Maria adalah bocah dari keluarga Kristiani dan ekonominya berkecukupan. Keluarganya sangat open minded, sehingga ayah Dulce memasukkannya ke TK Daarul Quran milik Ustaz Yusuf Mansyur.

Alasan ayahnya memilih TK itu karena di sana tidak hanya sekadar belajar dan bermain, tapi bisa juga sebagai tempat penitipan anak. Ya maklum, Dulce anak piatu dan ayahnya sibuk bekerja agar bisa beli es kopi dan bayar uang sekolah yang terkenal cukup mahal itu.

Sifat open minded juga dimiliki oleh tante Dulce. Dia hobi gonta-ganti warna rambut, gak pernah ke-trigger sama komen-komen orang di Instagram, SJW lingkungan, suka nongkrong sana-sini, dan bekerja di creative agency.

Hari-hari Dulce dihabiskan di sekolah yang semi pondokan pesantren itu. Di sekolahnya itu ada satu ustazah yang sangat dekat dengan Dulce, namanya Ustazah Cecilia, dan dia pun sangat akrab dengan keluarga Dulce. Pulang sekolah biasanya Dulce dijemput sama tantenya, lalu sampai rumah dia bermain dengan kocheng oren kesayangannya.

Pernah suatu hari Dulce dijemput sama ayahnya. Biasa lah, sebelum pulang pasti guru berdiri di depan pintu kelas lalu murid-muridnya mengantre untuk salim. Nah, pas itu ayah Dulce melihat Ustazah Cecilia yang jadi gurunya. Ayah Dulce terkesima melihat Ustazah Cecilia, lalu dalam hati dia ngebatin, “Anjir, Ustazah hypebeast! Doski pake Uniqlo X Kaws!”.

Long-short story, Ustazah Cecilia dan ayah Dulce saling jatuh hati hingga memutuskan untuk menikah. Tapi hal itu menjadi pertentangan karena adanya perbedaan keyakinan. Selain itu, administrasi pernikahan beda agama di Indonesia juga cukup berbelit.

Sebelumnya, mereka saling mempelajari agama pasangan masing-masing. Setelah melalui pergolakan batin, mereka akhirnya menikah dengan tetap memilih agama yang diyakini sedari awal.

Namun ada hal privasi yang membuat Ustazah Cecilia menanggalkan hijabnya dan menjadi anak hypebeast seutuhnya.

Tipikal orang Indonesia yang sangat peduli dengan apa yang dilakukan orang lain, maka keluarga Dulce pun sering menjadi target rasan-rasan (bahan gosip) oleh ibu-ibu PKK setempat.

Adaa aja gitu yang jadi bahan perjulidan ibu-ibu. Contohnya ayah Dulce yang selalu bekerja tapi gak kaya-kaya dan gak pernah ikut rapat bersama bapak-bapak RT.

Belum lagi keputusan Cecilia untuk lepas hijab membuat ibu-ibu itu getol untuk share link kajian Ustaz YouTube setiap waktu untuk Cecilia.

Nggak cuma itu, tante Dulce yang bekerja di creative agency pun sering kena sasaran. Mereka melihat kerjaan tante Dulce hanya duduk diam di depan laptop dan jarang ngantor, sehingga memunculkan anggapan kalau tante Dulce terlibat cyber crime.

Tapi buat apa memusingkan omongan tetangga, hanya akan menambah beban di kepala. Jadi, keluarga Dulce Maria tetap menjalani hidup dengan santuy dan selalu menghormati perbedaan yang ada.

Related Articles

Back to top button