Ekonomi & Bisnis

Apa Itu Resesi Ekonomi? Tenang, Tenang …..

ENERGIBANGSA.ID — Resesi nampak bagai hantu sepanjang pandemi Covid-19 ini. Banyak media mengabarkan tentang resesi. Pun masyarakat tak jarang berbincang soal resesi.

Banyak pula para pengamat meramal Indonesia mulai masuk resesi bulan Oktober 2020. Dan per hari ini, Kamis (1/10) dikabarkan Indonesia resmi memasuki masa-masa resesi. Bak hantu yang terus menebar ketakutan, resesi seolah-olah lebih “kejam” daripada krisis ekonomi.

Memahami Resesi

Resesi ekonomi pada dasarnya dapat pula diartikan sebagai kemerosotan ekonomi suatu negara. Resesi adalah kondisi dimana Produk Domestik Bruto (PDB) menurun atau saat pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama 2 kuartal atau lebih dalam setahun.

Tentu, imbasnya adalah penurunan seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi dan tentunya keuntungan suatu usaha atau perusahaan. Nah, jika harga-harga menjadi turun bisa disebut deflasi.

Sebaliknya, jika harga-harga pada naik maka kita bisa menyebutnya inflasi. Lebih lanjut, jika resesi ini berlangsung dengan waktu yang lama maka istilahnya menjadi depresi ekonomi.

Ini juga bisa berakibat terjadinya kebangkrutan ekonomi yang bisa disebut hiperinflasi. Orang-orang juga dapat menyebutnya: kolaps (bangkrut).

Resesi Indonesia

Resesi akibat krisis pandemi ini memang bisa saja ‘menyerang’ Indonesia. Itu pasti! Sebab, pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III mengalami penurunan (minus) seperti pada pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II-2020.

Resesi merupakan siklus dari perekonomian kita yang tak bbisa dihindarkan. Menurut Pengamat Ekonomi Piter Abdullah, ada hal yang perlu dipahami masyarakat terkait resesi. Di mana ukuran ekonomi dihitung berdasarkan seberapa besar output atau produksi yang dihasilkan dalam satu tahun.

Menurut Piter, output yang dihasilkan dalam setahun harus meningkat setiap tahunnya. Kalau tahun ini produksi 100 unit, tahun depan seharusnya tumbuh 105 unit atau ada kenaikan 5%. Resesi itu terjadi ketika ekonomi tumbuh negatif, dari 100 unit, turun 95 dan berlangsung dua triwulan berturut-turut.

Perlu juga ditekankan bahwa resesi juga bukan berarti semuanya sudah kiamat, sudah hancur. Tidak! Kita masih bisa berproduksi, masih hidup, output kita masih ada.

Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir dengan terjadinya resesi. Sebab perlu dipahami bahwa resesi adalah sebuah siklus dalam kehidupan; kadang naik dan kadang juga turun. Tenang, ya! (*)

Related Articles

Back to top button