fbpx
Nasional

Apa beda Buzzer dan Influencer? Ini Jawaban Analisis Media Sosial

ENERGIBANGSA.ID (Jakarta) — Usai  juru bicara Presiden Jokowi menyatakan buzzer dan influencer berperan penting di era demokrasi digital. Isu ini mengemuka dan hangat diperbincangkan.

Bahkan, adu argumen antar politisi mengenai pernyataan tersebut tak terhindarkan. Lalu, apa sih buzzer dan influencer? Apa bedanya?

Buzzer sendiri, dilihat dari akar katanya ‘buzz’ dalam bahasa Inggris memiliki arti ‘dengung’. Jadi, ‘buzzer’ dapat dialihbahasakan seagai ‘pendengung’ di media sosial (medsos).

Sedangkan influencer berasal dari kata ‘influence’ yang artinya ‘pengaruh’, sehingga influencer diartikan sebagai ‘pemengaruh’.

 Lantas apa ini bedanya antara buzzer dan influencer?

Analis media sosial Drone Emprit dan Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, sebagaimana tim energibangsa.id melansir dari detik.com, Selasa (1/9), memberikan penjelasan mengenai kedua hal tersebut.

Buzzer cenderung mengamplifikasi isu yang sudah ada. Tidak membuat isu sendiri,” ujar Ismail.

Biasanya buzzer adalah anonim, bekerja atas dasar permintaan isu yang dibawa pelanggannya seperti agensi kehumasan (Public Relation/PR). Partai politik, pemerintah, perusahaan, selebritis, maupun pihak lainnya.

Buzzer ini biasanya bukan orang terkenal, bukan juga public figure,” timpal Fahmi.

Buzzer di sosial media bisa saja hanya sembarang nama, dengan foto profil random, bisa perempuan laki-laki, anime, bahkan foto kucing.

Identitas buzzer tidak penting bagi pihak perekrut, yang penting isunya tersebar dan viral di media sosial seperti, twitter, Facebook, Instagram, YouTube, dan lainnya.

Secara garis besar, perbedaan antara buzzer dan influencer terletak pada buzzer yang bukan orang terkenal dan influencer sosok yang terkenal dan berpengaruh.

“Kalo Infuencer itu seorang figure yang terkenal di bidang masing-masing. Misalnya di seni, si influencer adalah seorang artis, atau di politik adalah politikus tenar,” ujar Fahmi.

Influencer memiliki pengaruh yang besar yang ia berikan kepada followers-nya yang banyak, sehingga pihak yang memiliki isu dapat menggulingkan isu dengan bantuan influencer.

“Berbeda dengan buzzer, influencer sudah punya pengaruh besar sebelum dai diberi pekerjaan oleh pemberi pesan,” jelas Fahmi.

Pada intinya, influencer tidak tergantung pada isu yang ditawarkan, bahkan influencer sudah memiliki pemasukan dan sudah cukup terkenal.

Untuk bekerjasama dengan seorang influencer pun membutuhkan biaya yang jauh lebih mahal dibanding dengan buzzer.

Fahmi menerangkan bahwa biaya menggunakan influencer bisa mencapai Rp 10 juta sekali posting, sedangkan biaya buzzer jauh dibawah itu.

Bisanya buzzer dikontrak selama satu atau dua bulan untuk terus memposting isu. Keduanya tetap bisa membuat trending topics medsos, algoritma mesin pencari, atau konten viral. Meskipun, tidak semua trending merupakan hasil buzzer dan influencer.

Buzzer sendiri dibedakan lagi menjadi buzzer sukarela dan buzzeRp, maksudnya, ada buzzer yang dengan sukarela bekerja karena memiliki kecocokan dengan ideologi, tokoh politik, selebritis atau hal lain, sedangkan buzzeRp merupakan buzzer bayaran dengan pola tertentu.

Buzzer yang sukarela ada, yakni buzzer ideologis karena punya kesamaan pandangan politik. Ada juga yang bayaran, cirinya adalah postingan cuma satu tema saja setiap hari,” jelas Fahmi.

Ada pula istilah BuzzeRp yang dewasa ini sering disebut netizen yang merujuk pada buzzer pro-pemerintah, sedangkan lawan dari BuzzeRp adalah kadrun, olok-olokan untuk pihak antipemerintah.

Pemerintah memandang peran influencer menjadi penting dalam era digital.

Fadjroel Rachman, Juru Bicara Presiden, menganggap influencer menjadi bagian penting dalam perkembangan informasi dan demokrasi digital yang dibutuhkan sebagai jembatan yang dapat mencakup masyarakat lebih luas dan menkomunikasikan kebijakan pemerintah.

“Perkembangan masyarakat digital dengan peranan para aktor digital (salah satunya influencer) umumnya adalah kelas menenegah adalah keniscayaan dari transformasi digital. Aktor digital akan terus berkembang dalam peran-peran penting membangun ajringan informasi yang berpengaruh terhadap aktivitas produktif sosial ekonomi dan politik,” ujar Fadjroel dalam keterangannya pada wartawan (2/9).

Program Siberkreasi gagasan kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sempat diterpa isu miring terkait infulencer di media sosial.

Kominfo menjelaskan, Siberkreasi merupakan wadah kolaborasi bersama 108 lembaga komunitas. Di dalamnya memang ada program School of Influencer sebagai pelatihan untuk masyarakat.

School of Influencer bukan pelatihan untuk para influencer, bisa dicek di website maupun medsos Siberkreasi,” kata Stafsus Menkominfo Bidang Digital dan SDM, Dedy Permadi, pada detik.com, Minggu (30/8).(Annisaa/EB)

Related Articles

Back to top button