Essai

Aku, Persijap Jepara, dan Sepakbola

Oleh : M. Said Basalamah

ENERGIBANGSA.ID – Pada 22 tahun lalu tepatnya Desember 1997 saya melabuhkan jangkar di Jepara. Tahun 98 krisis moneter Indonesia merupakan berkah bagi sebahagian pebisnis Jepara tapi malapetaka bagi masyarakat umum Indonesia lainnya.

Ekspor dalam dolar nilai tukarnya naik sehingga 700% . Harga kursi lempit awalnya USD100 @ Rp250rb melonjak ka USD100 @ Rp1.500.000. Saya bersama sepupu akhirnya bergabung mengambil gudang di Langon. Kami juga gabung bersama Ibu Lenny.

Tahun 1999 saya menonton langsung Persijap promosi dari Div 1 ke Div Utama. Kalau tidak salah pertandingan menentukan Persijap vs Persidafon Dafonsoro di Kamal Junaidi. Itu menjadi cinta pandang pertama saya pada Persijap.

Tahun 2000 saya mulai domisili di Desa Sekuro. Di situlah bermula saya terlibat langsung dalam Sepakbola di Jepara. Bermain untuk RT 29 dalam lomba Sepakbola Antar RT desa Sekuro.

Setelah turnamen tersebut, saya didatangi oleh sesepuh sepakbola desa Sekuro Bpk Jasnoto yang mengajak saya bergabung dengan PS Sakura Utama. Kata beliau saya bermain seperti Eric Cantona hehehe

Saya membela PS Sakura Utama di Divisi II Pengcab Jepara waktu itu posisi saya sebagai striker. Ketika melawan salah satu tim kidul, kiper Sakura patah kakinya diinjak lawan tapi bola yang masuk tetap dikira gol. Bunyi celurit bergesekan dengan pagar stadion langsung mengeriang di telinga.

Wasit tidak jadi membatalkan gol. Serem…. skor 1-0 untuk lawan. Sang Kiper Maryono digotong ke RSU. Lho begini ya sepakbola? Banyak juga kenangan manis lain yang tidak bisa dilupa. (Eh, kirim Alfatehah dulu untuk beliau Bapak Maryono, yang baru meninggal beberapa bulan lalu karena kecelakaan).

Pertandingan antar RT, antar RW, Divisi Pengcab, antar Desa Se Kecamatan, Sukun Cup, Djarum Super Cup, Yazztea Cup dan setiap kompetisi/ turnamen 2000-2012 yang diikuti, Said ‘Cantona’ Basalamah sentiasa setia untuk Sakura yang kini telah ‘diremajakan’ menjadi SUFC. Baik main maupun menjadi waterboy. Nonton Persijap main menjadi aktivitas weekend, walau nontonnya gratis, karena selalu dapat tiket undangan terus.

Pada 28 November 2012. Sebuah kabar datang. Dooooorrr. Saya ditelpon seorang teman… “Pak, Evaldo ada di Hotel K*******. Dia tidak boleh keluar karena ‘disandera’ sebab kamar yang belum dibayarkan managemen lebih dari 1 bulan,” itu termasuk juga tanggungan kamar pemain asing lain yang sudah pergi seperti Gaston dkk.

Evaldo datang ke Jepara dari Brasil sudah 1 bulan, untuk diundang bergabung lagi dengan Persijap, tapi kenapa sekarang ditelantarkan? Why… Legend El Capitano Persijap lho… Idola gue!

Tanpa pikir panjang, kami langsung ke Hotel dan berusaha membantu agar bisa diselesaikan. Itu titik bermula kami menapakkan kaki di Persijap. Persijap 2012-2013 yang mulanya meledak viral lagi dengan seleksi bintang-bintang besar, seperti Gaston, Evaldo dan bintang lainnya, tiba-tiba jadi abu-abu, bahkan gelap!

Pemkab yang selama itu ( sebelum 2010) bisa membantu milyaran bahkan hingga puluhan milyar, sejak ada Permendagri No 22 tahun 2011 (masyarakat ya tahunya hanya menyalahkan Bupati) sudah tidak bisa membantu lagi, karena Klub Pro tidak boleh menggunakan dana APBD. maka kami ambil keputusan untuk terjun membantu Persijap.

Tahun 2013, ada dualisme liga, dimana Persijap Jepara oleh Ketum waktu itu membuat keputusan mengikuti IPL yang berada di bawah PSSI yg sah.

Dirunut dari sejarahnya pada musim 2011-2012 Persijap merger dengan BOGOR Raya FC. Menggunakan badan hukum PT BOGOR RAYA (pemegang lisensi main di IPL) yang kemudiannya diganti nama ke PT Jepara Raya Multitama. Saham PT JRM 80% dimiliki oleh proxy Konsorsium LPIS dan 20% dimiliki Persijap.

Pada tahun 2013 kami membeli saham 80% agar Persijap tetap aman di Jepara dan terutamanya ada kekuatan hukum buat managemen Persijap. Padahal sampai hari ini setahu saya tidak ada hitam putih atau ketentuan bahawa PT JRM adalah pemilik Persijap. Penyelenggara iya.

LPIS menjanjikan tiap klub IPL mendapat subsidi 3 M, tapi yang klub-klub dapat hanya emberrrrrr. Sepeser pun tidak turun, malah Persijap adalah klub yang (memberi) subsidi 200 juta buat klub Juara IPL Persibo untuk mengikuti AFC Cup di HongKong karena atas dasar LPIS tidak punya dana dan jika tidak berangkat, Indonesia akan disanksi AFC.

Sepakbola musim 2014-2015 sangat semerawut. Peralihan Musim 2013 dari IPL ke musim 2014 ISL dan akhirnya turun lagi ke Liga 2. Para mafia sepakbola seperti bakteri yang menggerogoti daging.

Akhirnya kami angkat tangan. Apa gunanya punya pemain bagus dan latihan dari pagi hingga sore, selama 6 hari dalam seminggu tapi hasil pertandingan sudah ditentukan oleh wasit di tengah yang terus berkomunikasi dengan oknum pemain di lapangan.

Belum lagi setan-setan mafia yang menghurung bagai nyamuk di kuping. Jangan kata di ISL, di kelas tarkam saja mereka berjamuran. Doa saya, sukses buat Satgas Mafia Bola Indonesia! Sepakbola Jepara? Persijap & Askab. Kapan terakhir kita Juara? Saya juga tahu rasanya gagal.

Alhamdullilah Persijap pada musim 2019 ini pada pandangan saya sudah di tangan yang benar. Bukan hanya punya kekuatan finansial, tapi juga karena faktor owner, karena sepertinya pemilik OASIS juga gila bola.

Kriteria Gila Bola adala hal wajib, karena sepakbola Indonesia tidak bisa diraup untung, sekurang-kurangnya sulit lah. Bayangkan, 8 Milyar menguap saja untuk IPL dan ISL 2012-2014! (ada laporan audit, bukan hanya omdo).

Untuk Liga 3 2019 ini , pandangan saya Persijap hanya perlu mengalahkan dirinya sendiri. Jika itu bisa, InsyaAllah Liga 2 di depan mata. Mengalahkan dirinya sendiri berarti dari kompetisi liga 3 mulai, Persijap tidak pernah kalah.

Tanpa kalah adalah prestasi bagus, tapi bahayanya jika kita terus merasa di atas angin. Untuk 16 besar nanti, kalau tidak salah mengunakan sistem knock out, alias sistem gugur.

Jadi, semoga Persijap sentiasa fokus dan tidak alpa menuju 8 besar. Kami yakin Coach Sahala Saragih sangat berpengalaman dalam kondisi seperti ini dan akan berhasil mengembalikan Persijap pada tempatnya.

Oh ya, tidak lupa buat Askab PSSI Jepara. Kalau orang yang kena Kanker , dokter akan lakukan pembedahan untuk buang Kankernya yang stadium 3 atau stadium 4. Kalau yang masih stadium rendah, diradioterapi atau dikemoterapi juga bisa sembuh. InsyaAllah bisa sembuh dan bisa sehat lagi. Berani dikemoterapi? hehehe

Buat saya pribadi, terlalu banyak ‘ikan’ di laut yang kelelep yang perlu diselamatkan. Jadi, alhamdullilah, hari ini saya sudah pensiun total di Sepakbola ( walaupun gak ada yang tanya atau peduli sih).

Nek ono seng ngajak mancing sih monggo, tapi nek ono seng jek takon masalah balbalan. Maaf, salah alamat.

M. Said Basalamah, eks Presiden Persijap Musim 2012-2014

Related Articles

Back to top button